“Cukup kita hargai cerita di setiap da(e)rah, tetapi bukan untuk ditakuti,” Terang Sakkir selaku pengelola Gelar Zine SaESA.
Kalimat itu menjadi semacam penanda arah. Sebab terlalu banyak ketakutan diwariskan tanpa penjelasan. Terlalu banyak generasi diajarkan untuk takut sebelum diajarkan untuk memahami. Padahal pengetahuan lahir dari keberanian untuk bertanya.
Baca Juga : Malam Parakang Membuka Ruang Percakapan, Mengurai Ketakutan Menjadi Pengetahuan di Rumah Buku SaESA
Jika Parakang masih menyisakan cerita yang belum selesai, SaESA juga membuka ruang bagi siapa saja yang ingin melanjutkannya. Sebab setiap ketakutan yang dibentuk oleh pasang tau toa ta selalu menyimpan pertanyaan yang layak dicari jawabannya.
Mengapa cerita itu muncul? Siapa yang pertama kali menyebarkannya? Apa yang sedang disembunyikan atau justru dijaga oleh cerita tersebut?
Sebab hidup yang berharga bukan hanya tentang percaya. Hidup yang berharga adalah mencari. Mencari tahu apa yang berada di balik cerita. Mencari tahu mengapa suatu ketakutan bisa bertahan melintasi generasi. Dan mencari tahu mengapa kita sering kali lebih takut pada cerita daripada ketidaktahuan kita sendiri.
Baca Juga : Tradisi Mappadekko kian Asing, Gelar Zine Bulukumba Hadirkan Ingatan
Melalui tema Asu Panting, SaESA kembali mengajak publik untuk menggelarkan cerita-cerita yang selama ini hanya hidup sebagai budaya tutur. Mengubah bisikan menjadi tulisan. Mengubah ketakutan menjadi pengetahuan.
Karya dapat dikirimkan melalui surat elektronik:
[email protected]
Barangkali ada cerita yang selama ini hanya berputar di kepala. Seperti banyak cerita lainnya, ia sedang menunggu seseorang untuk menuliskannya.***
Baca Juga : Bukan Sekadar Baca Buku, Rumah Buku SaESA Rawat Literasi Lewat Lingkar Pertemuan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
