HARIAN.NEWS, BONE – Suasana khidmat dan penuh makna budaya mewarnai prosesi Mattompang Arajang dalam rangka peringatan Hari Jadi Bone ke 696 di halaman Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin 6 April 2026.
Kegiatan sakral yang merupakan tradisi leluhur masyarakat Bone ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting.
Termasuk Anggota Komisi III DPR RI, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman dan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan, Dr. Didik Farkhan Alisyahdi, S.H., M.H.
Baca Juga : Bukan Sekadar Biografi, “BupAAS: Jalan Pengabdian” Hadirkan Perspektif 44 Narasumber
Selain itu, hadir Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, Pangdam Hasanuddin, Mayjen Bangun Nawoko, Anggota DPR RI, HAM Nurdin Halid, Wakil Gubernur Sulsel, Hj Fatmawati Rusdi, Bupati Bone, H Andi Asman Sulaiman, Wakil Bupati Bone, H Andi Akmal Pasluddin dan bupati kabupaten kota di Sulsel.
Andi Amar Ma’ruf dan Kajati Sulsel terlihat berjalan beriringan menuju panggung VIP.
Prosesi Mattompang Arajang yang merupakan ritual pencucian benda pusaka peninggalan Raja Bone ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan warisan budaya yang telah dijaga turun-temurun.
Baca Juga : Perjalanan Aras Prabowo, Putra Petani yang Tak Menyerah hingga Raih Doktor
Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat menunjukkan komitmen bersama dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.
Kajati Sulsel menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan tradisi tersebut yang dinilai mampu memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat persatuan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa momentum Hari Jadi Bone tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga refleksi untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan leluhur.
Baca Juga : Bone Harus Mendunia: Energi yang Menyala dari Bone
Kajati juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan budaya Bone yang masih terjaga dengan baik. “Saya berharap tradisi seperti Mattompang Arajang dapat terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari jati diri bangsa,” tukasnya.
Prosesi berlangsung dengan penuh khidmat, diiringi adat istiadat khas Bone yang sarat makna filosofis. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga harmoni antara budaya, sejarah, dan pembangunan daerah di masa kini maupun yang akan datang.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
