Logo Harian.news

BPOM RI Dorong Harmonisasi Regulasi Kesehatan ASEAN Lewat Forum 4CRP, Taruna Ikrar Pimpin Delegasi Indonesia

Editor : Redaksi Jumat, 17 Juli 2026 19:16
Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar di Singapura, Jumat (17/7). (HSN/HN)
Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar di Singapura, Jumat (17/7). (HSN/HN)

HARIAN.NEWS, SINGAPURA – Tidak semua forum internasional mampu mengubah arah masa depan sistem kesehatan suatu kawasan. Namun, Four Country Regulatory Partnership (4CRP) menjadi salah satu forum strategis yang berpotensi mewujudkan hal tersebut.

Forum yang mempertemukan empat otoritas regulator terkemuka di Asia Tenggara, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Health Sciences Authority (HSA) Singapura, National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) Malaysia, dan Thai Food and Drug Administration (Thai FDA) menjadi wadah untuk merumuskan harmonisasi regulasi kesehatan di kawasan.

Baca Juga : Di Istana Negara, Taruna Ikrar Jadikan BPOM Simpul Pengawasan Koperasi Merah Putih: Produk Desa Harus Aman Sebelum Masuk Pasar

Seluruh pembahasan berlangsung dalam kerangka kerja sama ASEAN dengan mengacu pada standar World Health Organization (WHO) dan International Council for Harmonisation (ICH) sebagai rujukan internasional dalam pengawasan obat dan produk kesehatan.

Dalam forum bergengsi yang mengusung tema “Exploring a Joint Regulatory Framework for More Accessible and Equitable Health for All” di Singapura, Jumat (17/7/2026), Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., memimpin delegasi Indonesia dengan membawa gagasan yang melampaui diplomasi regulasi.

Indonesia tidak hanya mendorong percepatan proses perizinan, tetapi juga menawarkan arsitektur kolaborasi ilmiah yang memungkinkan regulator saling berbagi hasil penilaian saintifik, memperkuat kepercayaan antarlembaga, serta mempercepat akses masyarakat terhadap obat, vaksin, dan teknologi kesehatan tanpa mengurangi standar perlindungan yang menjadi fondasi utama setiap otoritas regulator.

Baca Juga : BPOM Jadi Simpul Pengawasan Koperasi Merah Putih, Taruna Ikrar: Produk Desa Harus Aman Sebelum Masuk Pasar

Forum tersebut menegaskan bahwa tantangan kesehatan global tidak lagi mengenal batas negara. Perkembangan terapi gen, vaksin generasi baru, produk biologis, hingga teknologi farmasi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan mekanisme regulasi konvensional. Karena itu, regulator dituntut semakin adaptif, kolaboratif, dan tetap independen dalam setiap pengambilan keputusan.

Kepercayaan sebagai Fondasi Kolaborasi

Menurut Indonesia, keberhasilan kemitraan 4CRP bertumpu pada satu fondasi utama, yakni kepercayaan.

Kepercayaan tidak lahir hanya melalui penandatanganan dokumen atau pernyataan bersama, melainkan dibangun melalui transparansi, konsistensi, pertukaran pengetahuan, serta pengalaman bekerja bersama secara berkelanjutan.

Baca Juga : Taruna Ikrar: BPOM Percepat Akses Obat Inovatif untuk Terapi Diabetes Tipe Dua

Atas dasar itu, BPOM RI mendorong pertukaran laporan evaluasi ilmiah secara menyeluruh, mekanisme peer review antarasesor, pelatihan bersama, penguatan kapasitas regulator, pertukaran informasi keamanan pascapemasaran, hingga inspeksi bersama fasilitas produksi obat.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan standar ilmiah yang selaras di antara para regulator. Dengan meningkatnya keselarasan standar penilaian, kepercayaan akan semakin kuat sehingga proses pengambilan keputusan regulasi dapat berlangsung lebih cepat tanpa mengurangi prinsip kehati-hatian dalam melindungi kesehatan masyarakat.

Indonesia juga menyatakan kesiapan menjadi bagian dari proyek percontohan penilaian ilmiah bersama terhadap produk yang diajukan secara simultan di empat negara anggota 4CRP.

Baca Juga : Menuju Indonesia Sehat, Taruna Ikrar Perkenalkan Era Living Medicine dan Perkuat Sinergi BPOM-Dokter Umum

Selain itu, Indonesia mendukung pembentukan tata kelola 4CRP yang memiliki prinsip kerja, prosedur operasional, prioritas kolaborasi, serta peta jalan yang terukur agar kemitraan ini berkembang secara berkelanjutan.

Bagi Taruna Ikrar, keberhasilan kerja sama tidak diukur dari banyaknya forum yang diselenggarakan ataupun jumlah dokumen yang ditandatangani. Tolok ukurnya adalah kemampuan menghadirkan sistem regulasi yang lebih efisien, memperkuat kepercayaan antarlembaga, serta mempercepat ketersediaan produk kesehatan yang aman, bermutu, dan berkualitas bagi jutaan masyarakat di kawasan ASEAN.

Apa yang berlangsung di Singapura mungkin tidak menyita perhatian publik layaknya pertemuan politik tingkat tinggi. Namun, dari forum inilah fondasi masa depan regulasi kesehatan ASEAN sedang dibangun. Di meja perundingan tersebut, Indonesia menunjukkan komitmennya untuk menjadi bagian dari perancang arah perubahan, bukan sekadar mengikuti perubahan yang terjadi.

(HSN)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda