Logo Harian.news

ENREKANG

Electrifying Agriculture PLN Bantu Petani Bawang Tekan Biaya Produksi

Editor : Redaksi II Kamis, 11 Juni 2026 20:22
Tampak pemandangan lampu malam hari di kawasan pegununan Kabupaten Enrekang. Penggunaan lampu dimanfaatkan untuk menangkal hama dan meningkatkan produksi bawang. (Dok. PLN)
Tampak pemandangan lampu malam hari di kawasan pegununan Kabupaten Enrekang. Penggunaan lampu dimanfaatkan untuk menangkal hama dan meningkatkan produksi bawang. (Dok. PLN)

HARIAN.NEWS, ENREKANG – Di hamparan kebun bawang yang menghijau di lereng pegunungan Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, perubahan besar tengah dirasakan para petani.

Jika dulu mereka bergantung pada mesin berbahan bakar solar untuk mengairi lahan, kini listrik menjadi solusi yang membuat usaha tani lebih efisien, produktif, dan menguntungkan.

Baca Juga : Wamenaker: Serikat Pekerja PLN Harus Jadi Mitra Strategis Manajemen

Perubahan tersebut dirasakan langsung Muhajir, petani bawang di Enrekang yang kini memanfaatkan listrik PLN melalui program Electrifying Agriculture (EA).

Program ini merupakan inisiatif PT PLN (Persero) untuk mendukung modernisasi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sebelum menggunakan listrik, Muhajir harus mengandalkan pompa berbahan bakar diesel untuk menyiram tujuh kebun bawangnya.

Baca Juga : PLN Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Elektrifikasi Sektor Agrikultur

Selain membutuhkan biaya besar, ketersediaan bahan bakar juga kerap menjadi kendala.

“Dulu kami harus mencari BBM setiap hari agar pompa bisa beroperasi. Kalau bahan bakarnya tidak ada, penyiraman tanaman ikut terhambat,” kata Muhajir.

Ketergantungan pada solar membuat biaya operasional membengkak. Dalam satu musim tanam, ia mengeluarkan sekitar Rp35 juta hanya untuk kebutuhan penyiraman.

Baca Juga : Idul Adha 1447 H, PLN UID Sulselrabar Sembelih 92 Hewan Kurban

Namun setelah beralih menggunakan listrik PLN dengan daya terpasang 92.400 VA, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp14 juta per musim tanam.

Artinya, Muhajir mampu menghemat biaya operasional hingga sekitar 60 persen.

Tak hanya lebih hemat, sistem irigasi juga menjadi lebih andal. Pompa listrik dapat bekerja lebih stabil, sementara lampu penerangan yang dipasang di area kebun membantu mengendalikan serangan hama sehingga kualitas tanaman tetap terjaga.

Baca Juga : YBM PLN UID Sulselrabar Tebar Berkah Daging untuk Kaum Dhuafa dan Driver Ojol

“Sekarang kami tidak perlu lagi mengangkut solar ke kebun atau khawatir ketika BBM sulit didapat. Pembelian token listrik juga lebih mudah karena bisa dilakukan lewat telepon genggam. Ke depan saya berencana mengonversi sepuluh pompa lainnya menjadi listrik,” ujarnya.

Penyuluh Pertanian Lapangan Kelurahan Tanete, Irawaty Zainuddin, menilai pemanfaatan listrik telah membantu petani mengadopsi teknologi pertanian yang lebih modern dan efisien.

“Kami melihat langsung dampaknya di lapangan. Penggunaan pompa listrik dan lampu pengendali hama membuat proses budidaya menjadi lebih efektif, sementara biaya produksi petani dapat ditekan. Ini tentu berdampak positif terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen,” jelasnya.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Pemerintah Kabupaten Enrekang. Bupati Enrekang, Muh. Yusuf Ritangnga, menilai kehadiran listrik di kawasan pertanian menjadi faktor penting dalam mendorong modernisasi sektor pertanian daerah.

“Ketersediaan energi yang andal sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pertanian. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua DPRD Enrekang, Ikrar Eran Batu, menyebut Electrifying Agriculture sebagai bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Program ini tidak hanya membantu petani menekan biaya produksi, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan. Ini merupakan contoh sinergi yang baik antara BUMN dan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah berbasis pertanian,” ujarnya.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengatakan Electrifying Agriculture merupakan bagian dari komitmen PLN dalam mendukung sektor produktif masyarakat.

“Melalui program ini, PLN menghadirkan akses energi yang andal dan efisien untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat di sektor pertanian, perkebunan, hingga perikanan. Ini adalah bentuk dukungan PLN terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” kata Edyansyah.

Menurutnya, pemanfaatan listrik memungkinkan petani menggunakan teknologi yang lebih modern sehingga produktivitas meningkat dan biaya usaha menjadi lebih efisien.

Hingga Mei 2026, pelanggan Electrifying Agriculture di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat tercatat mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang sebesar 206.312 kVA.

Bagi PLN, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah pelanggan yang bertambah, tetapi juga dari dampak yang dirasakan masyarakat.

Ketika listrik mampu membantu petani meningkatkan hasil panen dan menekan biaya produksi, maka energi telah menjadi bagian dari upaya menghadirkan kesejahteraan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dari lahan-lahan pertanian yang kini semakin produktif, listrik bukan lagi sekadar sumber energi. Ia telah menjadi penggerak perubahan yang membantu petani menumbuhkan harapan, meningkatkan pendapatan, dan membangun masa depan pertanian yang lebih maju dan berkelanjutan.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

Tag : pln
KomentarAnda