HARIAN.MEWS, JAKARTA – Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IKAFE Unhas) menyoroti kondisi perekonomian Indonesia saat ini.
IKAFE menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan struktural semakin kompleks. Hal tersebut disampaikan dalam forum diskusi bertajuk Seruan Bulungan.
Diskusi ini digelar Pengurus Pusat IKAFE Unhas di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga : 13 Tahun Mengajar di Unhas, Mentan Amran Bantu Mahasiswa Yatim Piatu
Dalam forum tersebut, para alumni Fakultas Ekonomi Unhas menilai Indonesia sedang berada dalam fase drifting economy.
Fase ini diyakini sebagai kondisi ketika ekonomi tidak mengalami keruntuhan secara langsung, tetapi bergerak tanpa arah transformasi yang jelas.
Ketua Umum IKAFE Unhas, Hendra Noor Saleh, mengatakan stabilitas ekonomi yang selama ini dibangun pemerintah belum cukup mendorong transformasi ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
Baca Juga : Dari Kampus ke Industri: UNHAS dan UNM Siap Wujudkan Ekosistem Inovasi ABG Gagasan Kepala BPOM Taruna Ikrar
“Indonesia memang masih terlihat stabil dari sisi inflasi, fiskal, dan sistem keuangan. Tetapi di balik itu ada persoalan struktural yang semakin berat dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan narasi optimisme,” ujarnya.
Diskusi tersebut melibatkan berbagai kalangan alumni, mulai dari akademisi, profesional, pelaku usaha, hingga tokoh masyarakat.
Hendra menyebut Seruan Bulungan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi ekonomi nasional sekaligus pengingat bagi para pemangku kebijakan.
Baca Juga : IKA Unhas Peduli: Andi Amran Sulaiman Donasikan Rp1 Miliar dari Dana Pribadi untuk Anak Yatim
“Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menjaga stabilitas ekonomi, melainkan bagaimana menjadikan stabilitas tersebut sebagai energi penggerak transformasi nasional,” bebernya.
Dalam kajiannya, IKAFE menyoroti sejumlah persoalan yang dianggap mulai mengganggu fondasi ekonomi nasional.
Mulai dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pelemahan sektor manufaktur, stagnasi daya beli masyarakat, hingga meningkatnya beban fiskal negara.
Baca Juga : SAPU Digital Award, Upaya Alumni Dorong Tata Kelola Informasi Digital BEM Fakultas se-Unhas
IKAFE mencatat nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada Mei 2026. Di sisi lain, sektor manufaktur mulai menunjukkan kontraksi setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 49,1 pada April 2026.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi dinilai masih sangat bergantung pada belanja pemerintah dan program berbasis anggaran besar, sementara produktivitas sektor riil dianggap belum tumbuh optimal.
“Kalau tidak ditangani serius, kondisi ini bisa menggerus kepercayaan publik dan memperbesar risiko instabilitas sosial maupun politik di masa depan,” kata Hendra.
IKAFE Unhas juga menyoroti lemahnya sinkronisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan pembangunan sektor produktif.
Menurutnya, berbagai indikator ekonomi yang terlihat baik di atas kertas belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat.
Dalam Seruan Bulungan, IKAFE menyerukan perlunya reformasi tata kelola ekonomi yang lebih berbasis meritokrasi, kompetensi, integritas, dan keterbukaan terhadap kritik.
IKAFE juga meminta pemerintah menghadirkan komunikasi publik yang jujur dan berbasis data, bukan sekadar membangun optimisme semu.
“Budaya ABS atau Asal Bapak Senang harus dihentikan karena justru dapat memperburuk keadaan dan menurunkan kepercayaan publik,” ujar Hendra.
IKAFE Unhas menilai Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang inklusif, kompeten, dan independen, serta sinergi lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil.
Selain itu, mereka mendorong evaluasi terhadap prioritas anggaran negara agar lebih fokus pada sektor produktif seperti pendidikan, industrialisasi, inovasi teknologi, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
“Stabilitas ekonomi tidak boleh berhenti pada angka-angka makro. Stabilitas harus mampu menghasilkan pertumbuhan yang produktif, lapangan kerja berkualitas, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Hendra.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
