“Kadang orang tua abai. Anak belum pulang sampai jam 10 malam pun dibiarkan. Harusnya ada perhatian ekstra,” katanya.
Ia juga mendorong pembentukan tim khusus di tingkat desa dan kelurahan, yang melibatkan masyarakat, komunitas, dan pemerintah daerah agar lebih efektif dalam melakukan pencegahan.
Baca Juga : Disinformasi Kodrat Perempuan: Cerita Penyintas KBGO, Digerus Ruang Hidupnya hingga Alami Kekerasan Berlapis
Di sisi lain, saat dikonfirmasi soal maraknya kasus kekerasan terhadap anak, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (P3AP2KB) Kabupaten Sinjai, Drs. Janwar, MH, belum bisa memberikan banyak komentar.
“Mohon maaf, saat ini kami sedang mengikuti Verifikasi Lapangan (Verlap) Kabupaten Layak Anak secara hybrid dengan Kementerian PPPA. Secepatnya kami jawab,” tulisnya melalui pesan WhatsApp.

Drs.Janwar, Kepala Dinas P3AP2KB Sinjai ||handover
Baca Juga : Berganti Kanit, Kasat, hingga Kapolres, Kasus Korupsi Fingerprint Tetap Jalan di Tempat
Sebagai informasi, Kabupaten Sinjai sebelumnya berhasil meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Pratama pada 29 Juli 2021.
Sayangnya, predikat ini kini tercoreng dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bahwa predikat saja tidak cukup. Perlindungan nyata bagi anak-anak Sinjai kini menjadi PR besar bagi semua pihak. ***
Baca Juga : Viral Foto MBG yang Dinilai Kurang Gizi, Netizen Heboh di Grup WhatsApp
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

