HARIAN.NEWS, MAKASSAR – JNE menggelar media ghatering di Ballroom Phinisi D, lantai 1 Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM), Jalan AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (30/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, JNE juga menghadirkan dua orang juri competition jurnalistik JNE 2026, Maman Suherman dan Martha Suherman. Lomba karya jurnalistik telah dibuka sejak Mei sampai Juni 2026.
Baca Juga : GMTD Gelar RUPST 2026, Struktur Pengurus Baru Disahkan
Para juri lomba jurnalistik JNE berbagi strategi penulisan dan kiat sukses tulisan lolos penjurian hingga meraih juara.
Tahun ini JNE mengangkat tema “Bergerak Bersama Beragam Cerita”. Perwakilan Media Communication JNE, Noval, menjelaskan bahwa tema tersebut mencerminkan perjalanan JNE dalam mendampingi pelaku UMKM dan media di Indonesia.
“Tema ini menunjukkan bagaimana JNE terus bergerak bersama, menghadirkan beragam kisah inspiratif untuk para konsumen dari berbagai daerah,” ujarnya.
Baca Juga : Menuju Kampus Bereputasi Internasional, Unismuh Makassar Jalani Visitasi BAN-PT
Selanjutnya, salah satu juri Nasional, Maman Suherman, menekankan pentingnya kekuatan cerita dalam karya jurnalistik.
Menurutnya, tulisan yang baik, tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu menggugah emosi sekaligus membuka wawasan pembaca.
Ia mencontohkan sejumlah karya pemenang sebelumnya yang dinilai kuat karena menghadirkan pesan inspiratif.
Baca Juga : Resmi Dibuka, Taro Waterpark Makassar Tawarkan Wisata Edukasi Anak
Di antaranya adalah liputan tentang proses pengiriman produk sektor pariwisata hingga menembus pasar internasional.
Dalam karya tersebut, peserta mampu menguraikan perjalanan produk lokal secara rinci, mulai dari tahap produksi, pengemasan, hingga distribusi ke luar negeri.
“Narasinya tidak hanya informatif, tetapi juga memberi gambaran nyata tentang potensi ekonomi kreatif Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga : Trotoar Makassar Belum Inklusif, Dikuasai PKL dan Parkir Liar
Maman menambahkan, kekuatan storytelling menjadi pembeda utama antara karya biasa dan karya berkualitas.
Peserta yang mampu menghadirkan emosi, baik tawa, senyum, maupun haru, dinilai memiliki nilai lebih di mata juri.
Contoh lain yang disoroti adalah liputan tentang komunitas penyandang disabilitas di Bandung.
Dalam karya tersebut, para anggota komunitas ditampilkan secara percaya diri dan inspiratif, bahkan tampil di ruang publik dengan penuh gaya.
“Karya seperti ini tidak hanya menyentuh sisi kemanusiaan, tetapi juga memberi dampak nyata, seperti meningkatnya perhatian publik terhadap isu inklusivitas,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan karya jurnalistik tidak berhenti pada kemenangan lomba.
“Dalam beberapa kasus, jurnalis yang menghasilkan karya berkualitas justru mendapatkan peluang kerja sama lanjutan sebagai bentuk apresiasi,” jelas Maman.
Selain itu, cerita tentang komunitas kreatif seperti Tech Space turut menjadi perhatian.
Komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengekspresikan diri melalui seni, dengan hasil karya yang berkualitas dan berpotensi memiliki pasar luas.
Melalui berbagai contoh tersebut, para juri menilai bahwa jurnalisme memiliki peran lebih dari sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga mampu menginspirasi dan mendorong perubahan sosial.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

