Logo Harian.news

Merajut Asa dari Setumpuk Sagu Basah

Editor : Redaksi II Senin, 15 Juni 2026 19:45
Rully Iswanto memperlihatkan tepung sagu olahan Sago One versi sedang (kiri) dan premium (kanan). (Dok. Gita/HN)
Rully Iswanto memperlihatkan tepung sagu olahan Sago One versi sedang (kiri) dan premium (kanan). (Dok. Gita/HN)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Saat ayahnya meninggal dunia 3 tahun lalu tepatnya 2023, Rully Iswanto (34) sempat termenung di depan tumpukan karung sagu di rumah produksinya.

Tak ada suara selain dengung mesin yang sesekali terdengar dari sudut ruangan. Di benaknya, hanya ada satu pertanyaan yang terus berputar.

Baca Juga : Juri Ungkap Rahasia Juarai Lomba Jurnalistik JNE 2026

“Apakah usaha ini masih bisa diteruskan?”

Sebab sejak kecil, ia tak pernah benar-benar membayangkan akan menghabiskan hidupnya mengurus sagu.

Apalagi, di tengah dominasi tepung terigu, tapioka, dan berbagai produk pangan modern yang pasarnya jauh lebih besar, sagu terlihat seperti komoditas lama yang pelan-pelan mulai dilupakan.

Baca Juga : JNE Jadi Official Logistics Partner Konser “Dua Delapan” Padi Reborn 2026

Rully merasa, sagu hanya hidup dari warisan budaya yang terus dilestarikan. Bukan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Namun, usaha yang telah lama dirintis almarhum ayahnya harus terus diperjuangkan. Sebab, usaha itulah yang menghidupinya bersama keluarga.

Di sisi lain, Rully tak punya pengalaman dalam penjualan. Hal itu yang membuat Rully dipenuhi keraguan. Lanjut atau memutuskan berhenti.

Baca Juga : Arus Bantuan Membludak, JNE Makassar Pusatkan Drop Point Program Peduli Bencana di Kantor Cabang Utama

“Berhenti ma’ ini? Atau kulanjut ki’. Ka tidak ku tau apa mau kubikin. Tapi harus ka lanjutkan (Membiarkan usaha berhenti? Atau lanjut. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Tapi saya harus lanjut),” ucap Rully.

Namun, sekelumit pertanyaan yang membatin, akhirnya menemukan titik tengah. Rully mendapat dukungan dari sang ibu hingga akhirnya memilih bertahan.

Mimpi yang Dilanjutkan

Baca Juga : JNE Ajak Pelanggan di Makassar Manfaatkan Program JLC Race dan Harbokir 2025

Pagi itu, aktivitas di rumah produksi Rully sudah dimulai sejak matahari belum terlalu tinggi sekitar pukul 08.00 Wita. Di halaman rumah yang kira-kira berukuran 8×6 meter di ujung jalan KH.Abd. Jabbar Ashiry Pai, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, tampak siluet perempuan duduk di kursi kayu.

Dari jauh, ia terlihat sedang sibuk. Jemarinya bergerak pelan mengurai gumpalan sagu yang masih basah. Di tangannya, tepung putih itu diremas, dihancurkan, lalu ditebarkan di atas pattapi (Wadah anyaman yang biasanya digunakan untuk menampi beras) yang berjejer di halaman rumah.

Proses pengeringan tepung sagu di atas pattapi (Wadah anyaman yang biasanya digunakan untuk menampi beras). (Dok. Gita/HN)

Bersamaan dengan itu, suara mesin berdengung tanpa henti. Persis di pintu masuk, berbagai produk olahan tepung sagu berjejer rapi di atas lemari. Bentuk kemasannya bervariasi mulai dari yang kecil sampai yang ukurannya besar.

Dibagian tengah rumah produksi, di antara tumpukan kemasan bertuliskan “Sago One”, seorang pria menggunakan kaos oblong berwarna hijau terliat sibuk memeriksa pesanan yang akan dikirim hari itu.

“Kemas maki’ ini nah (Silahkan dikemas). Jangan lupa susun rapi. Siang nanti mau mi’ dikirim (Siang sudah akan dikirim),” ucap Rully kepada seorang perempuan.

Sesekali ia mengangkat karung, bolak-balik merapaikan barang dan mencoret daftar pengiriman. “Maaf nah (Maaf yah), banyak sekali pesanan. Mau semua itu dikirim ke Sulawesi Barat, sebagian lagi ke Sulawesi Tenggara. Ada juga ke Pulau Jawa,” ucap Rully menyambut harian.news, Jumat (04/06/2026).

Saat itu, Rully bercerita awal mula merintis usaha sagu. Waktu itu tahun 2011, usaha keluarga mereka belum memiliki nama. “Kami belum ada mesin. Belum punya merek. Belum ada kemasan menarik.”

Yang ada hanya setumpuk sagu basah yang dijemur di bawah matahari. “Ku ingat sekali itu (Saya ingat betul). Kami mulai dari setumpuk atau satu karung sagu basah. Dijemur manual. Ditumbuk pakai assung-assung (alat penumbuk yang terbuat dari batu) karena belum berani investasi mesin,” kenangnya.

Setiap hari sagu dijemur. Setelah kering, sagu akan dihaluskan menggunakan assung-assung, lalu dikemas dan dimasukkan ke dalam kemasan.

Tak hanya itu, produk tepung sagu yang siap jual akan ditawarkan kepada kerabat dan kenalan. Saat itu Rully hanya membantu seperlunya. “Kalau disuruh ka’ mengangkat karung, kuangkat sede’. Kalau disuruhka antar pesanan, kuantar sede (Saya akan mengangkat karung jika diminta. Dan mengantar pesanan jika dibutuhkan),” ucapnya dalam logat Makassar.

Ia tak pernah benar-benar memikirkan masa depan usaha sagu. “Kalau dulu saya hanya bantu-bantu saja. Belum berpikir soal bisnisnya mau dibawa ke mana,” katanya.

Hingga pandemi Covid-19 mulai berlalu tepatnya 2023. Tak lama setelah itu, ayahnya meninggal dunia. Peristiwa itu mengubah segalanya. Produksi tepung sagu yang dulu hanya pekerjaan keluarga, kini menjadi amanah yang harus dijaga Rully.

Menjalankan usaha sagu ternyata tidak mudah. Ia harus memaksa diri untuk belajar bisnis. Ia sempat keliling Sulawesi untuk mencari kualitas sagu yang bagus demi pengembangan usahanya.

“Alhamdulillah, perjalanan ku’ membuahkan hasil. Saya dapat pasokan dari berbagai daerah seperti Bone, Luwu Utara, hingga Sulawesi Tenggara,” bebernya.

Setelah Rully fokus mengembangkan usaha, setiap bulan, pesanannya meningkat hingga harus memproses sekitar dua hingga tiga ton tepung sagu. Ia juga telah membeli mesin untuk membantu pengolahan sagu agar lebih mudah.

Namun, perjalanan mengembangkan usaha tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar yang kerap dihadapi Rully, cuaca.

Ketika musim hujan tiba, proses pengeringan sagu menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama. Sehingga ia harus mencari alternatif lain agar usahanya tetap berjalan.“Makanya kalau sagu basah selalu ka’ duluan jemur. Kalau turun hujan, alternatifnya dioven ki’ supaya cepat kering.”

Barulah setelah itu, sagu dihaluskan menggunakan mesin, diayak berulang kali untuk memisahkan kotoran dan partikel asing, lalu disaring menggunakan magnet agar terbebas dari logam yang berpotensi membahayakan.

Lalu, tepung kemudian dikemas dan dikirim kepada pelanggan. Proses yang panjang itu dilakukan demi satu hal. Konsistensi. “Jangan sampai kualitasnya berbeda-beda. Kami selalu usahakan kualitas hari ini selalu sama dengan bulan depan dan seterusnya.”

Tepung sagu olahan Sago One dengan kemasan premium. Produk ini telah dikirim ke berbagai daerah, baik lokal maupun nasional hingga internasional. (Dok. Gita/HN)

Namun menjaga kualitas bukan satu-satunya tantangan. Ada keraguan yang lebih besar. Keraguan tentang masa depan sagu itu sendiri.

“Saya sempat pikir, memangnya bisnis sagu bisa berkembang sejauh apa?” katanya.

Pertanyaan itu terus mengikutinya selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari, jawaban datang dari tempat yang tak pernah ia duga.

Tamu dari Jepang

Rully bercerita, pada 2025, seorang pengusaha pangan sehat asal Jepang datang ke Makassar. Di tempatnya memproduksi sagu. Kedatangannya waktu itu bukan untuk berlibur, bukan pula sekadar singgah. Tapi, ia datang khusus melihat proses pembuatan Sago One.

Ia bahkan datang dua kali. Pada kunjungan pertamanya, ia melihat langsung proses produksi di tempat Rully. Lalu pada kunjungan berikutnya, ia rela menempuh perjalanan panjang hingga Malangke, Kabupaten Luwu Utara, untuk menyaksikan bagaimana sagu diproses sejak masih berupa pohon.

Yang membuat pertemuan itu semakin unik, keduanya hampir tidak memiliki bahasa yang sama. Sehingga Rully harus berbicara melalui situs penerjemah di telepon genggam.

“Jadi itu hp kalo sudah mi ki cerita dan direkam, diterjemahkan ki lagi kasian lewat google. Begitu juga yang orang Jepang (Jadi, setiap saya selesai merekam suara lewat hp, saya akan menerjemahkannya di google. Hal sama juga dilakukan oleh orang Jepang),” ucap Rully sambil tertawa.

Nah, percakapan sederhana itu ternyata membuahkan hasil. Rully mendapat tawaran kerjasama dalam proses pembuatan obat menggunakan sagu.

Setelah diteliti, di dalam sagu terdapat kandungan resistant starch atau pati resisten yang diyakini baik untuk kesehatan pencernaan dan menjadi perhatian industri pangan sehat dunia.

“Sekarang kami sedang melakukan pengujian lebih lanjut. Mungkin tahun ini hasilnya keluar dan kerjasama dengan Jepang akan dimulai,” katanya.

Dari cerita ini, Rully kembali mengenang sang Ayah. Mungkin ayahnya memang benar sejak awal. Bahwa warisan produk lokal seperti sagu akan menemui jalan suksesnya sendiri.

Kejutan di Awal Tahun

Senyum Rully semringah. Ia seakan tak bisa membendung kegembiraan yang dirasakan. Rully bercerita jika beberapa bulan lalu, tepatnya Februari 2026. Kejutan besar baru-baru menghampirinya.

Ia menerima sebuah telepon dari seorang pengusaha di Bekasi, Jawa Barat. Di seberang sana, sebuah perusahaan pakan ternak ingin menjajaki kerja sama yang lebih besar. “Mereka butuh tepung sagu sebagai bahan campuran pakan.”

Tepung sagu olahan Sago One. (Dok. Gita/HN)

Jumlah yang diminta membuat Rully terdiam. Seratus ton per bulan. Hampir lima puluh kali lipat dari kapasitas produksinya saat ini.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya peluang bisnis. Namun bagi Rully, angka itu adalah jawaban atas keraguan yang selama ini ia simpan.

Bahwa jalan yang ia pilih setelah kepergian ayahnya tidak sia-sia. Bahwa sagu ternyata memiliki masa depan. Dan bahwa mimpi yang dimulai dari setumpuk sagu basah kini diproduksi hingga ratusan ton.

“Setelah dengar itu, saya langsung gemetar. Menangis dan bersujud syukur. Akhirnya usaha yang Ayah ku’ wariskan bisa berkembang,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Kini Rully sedang mempersiapkan sampel produk untuk dikirim ke Bekasi agar proses kerjasama bisa secepatnya berjalan. “Saya juga berencana untuk menambah karyawan supaya pesanan bisa selesai tepat waktu tiap bulan,” ucapnya.

JNE Si Penyambung Asa

Di akhir perbincangan, Rully menceritakan bagaimana peran PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) menghubungkan Sago One ke pasar internasional hingga mendapat kesempatan kerjasama dengan pengusaha pakan di Bekasi.

Titik balik itu terjadi pada 2017, saat Rully mengikuti pelatihan pemasaran digital yang digelar JNE di Makassar. Di sana ia belajar tentang branding, legalitas produk, dan pentingnya menjangkau pasar yang lebih luas.

“Berkat JNE, saya bisa seperti sekarang. Seandainya saya tidak ikut pelatihan itu, mungkin saya tidak tahu bagaimana cara branding usaha ku’,” bebernya.

Setahun kemudian lahirlah merek Sago One. Untuk pertama kalinya, sagu yang selama ini hanya beredar di pasar lokal mulai dikirim ke berbagai daerah di Indonesia melalui marketplace.

“Padahal, sebelum ikut pelatihan, saya tidak tahu kalau ternyata sagu bisa dipasarkan sampai ke Jawa,” katanya.

Awal pengiriman satu dua kilo, hingga akhirnya jumlah pesanan terus bertambah hingga 1-2 ton. Pasar mulai terbuka. Orang mulai mengenal sagu Sulawesi bernama Sago One.

Produk Sago One yang dikirim melalui ekspedisi JNE. (Dok. Gita/HN)

Tak sampai di situ, sejak menggandeng JNE sebagai perusahaan logistik, Rully tidak khawatir lagi soal proses pengiriman dan pemesanan produknya. “Apalagi sekarang saya sudah jadi member JLC. Jadi semua kemudahan JNE untuk UMKM bisa saya rasakan.”

Bagi Rully, kontribusi terbesar JNE bukan semata pada proses pengiriman barang, melainkan memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan sagu asal Sulawesi.

Dukungan JNE tidak berhenti pada layanan logistik. Rully juga mengaku terbantu dengan berbagai program yang diberikan kepada pelaku UMKM, salah satunya voucher ongkos kirim.

“Tahun lalu itu, bahkan saya dapat voucher ongkir sampai Rp500.000. Jadi mempermudah lagi bisnis ta’. Jadi waktu itu siapapun yang pesan dapat ki’ gratis ongkir,” terangnya.

Namun terlepas dari semuanya, seiring berkembangnya usaha, manfaat yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga Rully. Secara tidak langsung, JNE juga berkontribusi memberikan peluang dan keuntungan bagi karyawan ibu rumah tangga.

“Berkat JNE, saya bisa belajar bisnis, bisa membuka peluang lebih besar sehingga pengiriman barang maksimal dan untung banyak. Sehingga saya bisa memberikan upah layak bagi ibu rumah tangga dan membuka peluang kerja lebih banyak untuk perempuan,” bebernya.

Rully mengatakan saat ini, Sago One telah mempekerjakan enam karyawan ibu rumah tangga (IRT) yang tinggal di sekitar tempat usahanya.

Mereka terlibat dalam berbagai proses produksi. Bagi Rully, kehadiran para pekerja tersebut menjadi bukti bahwa usaha kecil berbasis pangan lokal juga mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Produk Sago One sendiri dipasarkan dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kemasan, sehingga dapat dinikmati berbagai kalangan sekaligus.

Berdayakan IRT

Perkembangan usaha Sago One tak terlepas dari semangat dan kerjasama tim. Rahmatia sebagai karyawan Sago One mengaku tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan baik bekerja di rumah produksi tersebut. Padahal, awalnya Rahmatia menganggap pekerjaan memproduksi tepung sagu hanya mengisi waktu luang.

“Tapi tambah lama i, tambah banyak tawwa pasanannya, makanya harus maka fokus juga bekerja di sini (Lambat laun pesanan bertambah yang mengharuskan saya untuk fokus bekerja),” ucapnya.

Ibu rumah tangga (IRT) yang bergabung sejak 2023 itu tiap hari terlibat dalam proses pengolahan sagu, mulai dari menjemur, mengayak, hingga mengemas produk yang akan dikirim ke berbagai daerah.

Bagi Rahmatia, keuntungan bekerja di Sago One, selain mendapatkan pengalaman dan penghasilan, ia juga merasa lebih produktif tanpa meninggalkan urusan rumah tangganya.

Bisa ki’ juga pulang atau libur kalau ada keperluan ta’. Jadi enak sekali ji kerja di sini. Jam kerjanya juga’ fleksibel ji (Saya juga bisa pulang jika ada keperluan. Saya suka kerja di sini. Jam kerjanya juga fleksibel).”

Ia mengaku bangga menjadi karyawan Sago One. Ia menemukan beragam cerita tentang perjuangan. Ia juga merasa belajar banyak tentang konsep gotong royong dan saling mendukung.

“Pokoknya bagus ki’. Banyak dipelajari. Gotong royong ki’ juga. Saling mendukung. Kompak dan sama-sama ki’ semua bergerak (Bagus. Bisa belajar banyak. Saling gotong royong. Saling mendukung. Kompak dan bergerak bersama),” bebernya.

Kata Rahmatia, selama 3 tahun bekerja, ia telah menyaksikan perkembangan usaha yang dirintis Rully. Dulu, jumlah pesanan masih terbatas, kini semakin banyak produk Sago One yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Rahmatia, Sago One bukan hanya tempat bekerja, melainkan ruang tumbuh bagi para perempuan di lingkungan sekitarnya. “Saya dan teman-teman IRT lain bisa dapat kesempatan dan penghasilan. Apalagi sekarang susah dapat kerja. Alhamdulillah, Sago One penyelamat kami.”

Merangkul UMKM

Upaya JNE merangkul UMKM tidak hanya pada layanan logistik, namun lebih luas lagi melalui program JNE Loyalty Card (JLC).  Program ini diusung untuk mendukung pertumbuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Kepala Cabang JNE Makassar, Suci Indah Permatasari, mengatakan program JLC memberikan kesempatan besar untuk pelaku UMKM agar semakin berkembang lewat layanan pengiriman barang dan berbagai kegiatan hingga kolaborasi.

“Salah satu cara yang sering kami lakukan selain layanan pengiriman, membantu promosi produk di sejumlah event yang digelar JNE. Produk UMKM lokal turut dipromosikan kepada masyarakat,” ucapnya saat dikonfirmasi.

Selain itu, JNE juga memiliki program pembelian produk UMKM yang kemudian dipadukan dengan berbagai promo, seperti diskon maupun gratis ongkos kirim, guna meningkatkan daya tarik produk di pasar.

Adanya kemudahan ini membuat member JLC semakin meningkat. Kontribusi bisnis JNE di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat juga cukup signifikan.

Suci mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Mei 2026, member JLC dari segmen UMKM memberikan kontribusi sebesar 46 persen terhadap pengiriman retail JNE di wilayah Sulselbar.

Angka tersebut lanjutnya, menunjukkan sektor UMKM tidak hanya menjadi mitra strategis bagi JNE, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan bisnis perusahaan di sektor pengiriman ritel.

Produk UMKM turut dipasarkan di Kantor JNE Cabang Utama Makassar, Ruko Pettarani Center, JL. AP Pettarani. (Dok. Gita/HN)

Selain dukungan logistik, JNE melalui JLC juga menyediakan berbagai fasilitas untuk membantu pengembangan usaha para anggotanya.

“Di antaranya adalah program kolaborasi promosi produk, bundling pemasaran, diskon khusus, hingga kesempatan mengikuti kegiatan gathering dan program tahunan JLC Race,” bebernya.

Menurut Suci, berbagai program tersebut dirancang untuk memperkuat jejaring bisnis UMKM sekaligus meningkatkan eksposur produk agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Saat ini, JNE Makassar mencatat sebanyak 3.844 anggota JLC yang berasal dari berbagai sektor usaha.

“Maka dari itu, di tengah tantangan yang dihadapi UMKM, seperti kenaikan harga bahan baku, pembatasan pengiriman, hingga meningkatnya biaya layanan di marketplace, JLC hadir sebagai salah satu solusi,” jelasnya.

Melalui skema kerja sama pengiriman ritel dengan tarif yang kompetitif, JNE berupaya membantu pelaku UMKM menekan biaya operasional, khususnya dari sisi logistik, sehingga mereka dapat tetap tumbuh dan bersaing di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.

PENULIS: GITA OKTAVIOLA

 

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda