Menaker: Pelatihan Vokasi Jadi Langkah Nyata Siapkan Tenaga Kerja Kompeten
HARIAN.NEWS,MEDAN – Pemerintah terus mempercepat penyiapan tenaga kerja terampil melalui Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) 2026. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan program ini merupakan langkah konkret menjembatani kesenjangan kompetensi antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.
Baca Juga : Waspada Hoaks! BSU Rp600 Ribu Belum Ada Kepastian Cair
“Inilah langkah konkret bagaimana Kemnaker dapat menyiapkan tenaga kerja melalui pelatihan vokasi,” ujar Yassierli saat meninjau pelaksanaan PVN 2026 Batch I di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Medan, Selasa (21/4/2026).
Target Ambisius 70 Ribu Peserta
Tahun ini, Kementerian Ketenagakerjaan menargetkan 70.000 peserta mengikuti berbagai program pelatihan vokasi. Pada batch pertama, tercatat 10.405 peserta telah mendaftar dan mengikuti pelatihan yang tersebar di 21 Balai Latihan Kerja (BLK), 13 satuan pelatihan di bawah Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, serta 46 BLK UPTD di seluruh Indonesia.
Baca Juga : Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti
BBPVP Medan sendiri menggelar 10 program pelatihan dari 8 kejuruan strategis. Program tersebut meliputi Teknisi AC (Refrigerasi), Practical Office (IT), Barista, Kitchen Management, Housekeeping Management (Pariwisata), Surveyor (Bangunan), Operator Forklift (Otomotif), Las 6G (Pengelasan), Instalasi Tenaga Listrik, dan Menjahit.
Kolaborasi Industri Jadi Kunci
Yassierli menyadari keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk mengecilkan akses pelatihan. Ia menginstruksikan seluruh kepala balai pelatihan untuk proaktif membangun kemitraan dengan dunia industri.
Baca Juga : Sanksi Hukum, Kemenaker Resmi Terbitkan SE Larangan Perusahaan Tahan Ijazah Pekerja
“Kalau dana kita terbatas, saya minta kepada kepala balai agar menjalin kerja sama dengan industri. Dari situlah nanti kita bisa menyuplai tenaga kerja yang memiliki kompetensi vokasi sesuai kebutuhan industri,” tegasnya.
Strategi *link and match* ini dinilai krusial untuk memastikan lulusan pelatihan memiliki keterampilan yang relevan dan langsung terserap pasar kerja.
Dengan melibatkan industri dalam penyusunan kurikulum dan penyediaan fasilitas praktik, diharapkan terjadi sinkronisasi antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan riil lapangan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

