Logo Harian.news

Ketika Semua Mengaku Membela Kebenaran

Editor : Andi Awal Tjoheng Rabu, 15 Juli 2026 21:30
Mustamin Raga (foto_musraga)
Mustamin Raga (foto_musraga)

Masalah muncul ketika keduanya dicampuradukkan. Sesuatu yang dianggap benar secara moral belum tentu benar secara faktual. Sebaliknya, fakta yang nyata belum tentu dianggap adil secara moral. Seseorang mungkin yakin bahwa ia wajib membela bangsanya. Itulah kebenaran deontiknya. Namun pihak lain memiliki keyakinan moral yang sama. Ketika dua kewajiban moral saling bertabrakan, perang pun menjadi mungkin.

Itulah sebabnya hampir setiap medan perang dipenuhi orang-orang yang sama-sama yakin sedang berada di pihak yang benar. Seorang prajurit percaya ia sedang menyelamatkan negaranya. Lawannya juga percaya sedang menyelamatkan tanah airnya. Yang satu meneriakkan kemerdekaan. Yang lain meneriakkan keamanan. Yang satu mengusung keadilan. Yang lain mengusung ketertiban. Kata-katanya berbeda sedikit, tetapi keyakinannya sama besar.

Baca Juga : BADKO HMI Sulsel: Gubernur Gagal Memahami Makna Kritik Rakyat, Tanam Pisang Adalah Simbol Kekecewaan Publik

Lalu, jika semua berpihak pada kebenaran, mengapa mereka saling membunuh?

Karena manusia sering kali tidak sedang memperjuangkan kebenaran, melainkan memperjuangkan tafsirnya tentang kebenaran. Ketika tafsir berubah menjadi identitas, kritik dianggap penghinaan. Ketika identitas berubah menjadi harga diri, dialog berubah menjadi ancaman. Dan ketika ancaman bertemu kekuasaan, perang tinggal menunggu alasan.

Di sinilah letak jebakan terbesar manusia. Kita terlalu mudah menyamakan keyakinan dengan kepastian. Padahal keyakinan adalah milik manusia, sedangkan kepastian mutlak hanyalah milik Tuhan. Semakin seseorang merasa mustahil salah, semakin kecil ruang bagi percakapan. Fanatisme lahir bukan karena terlalu banyak mencintai kebenaran, melainkan karena terlalu sedikit meragukan dirinya sendiri.

Baca Juga : Takbir di Dalam Diri

Barangkali kebenaran bukanlah sebuah benteng yang harus dipertahankan dengan kebencian, melainkan sebuah cakrawala yang terus didekati dengan kerendahan hati. Manusia tidak ditugaskan menjadi pemilik seluruh kebenaran. Manusia hanya ditugaskan untuk terus mencarinya.

Mungkin karena itulah orang-orang paling bijaksana justru paling berhati-hati ketika berkata, “Aku benar.” Mereka memahami bahwa setiap kali manusia mengklaim telah menggenggam seluruh kebenaran, pada saat yang sama ia sedang melepaskan kesempatan untuk menemukannya.

Dan mungkin, di situlah ironi terbesar peradaban: darah manusia lebih sering tumpah bukan karena kebohongan, melainkan karena terlalu banyak orang yang merasa telah memiliki seluruh kebenaran.

Baca Juga : Menteri Agama: Jangan Monopoli Tafsir

Gerhana Alauddin tanggal tua, 2026 ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda