Logo Harian.news

Linieritas Penting, Tetapi Guru Bukan Garis Lurus

Editor : Redaksi II Senin, 05 Oktober 2026 22:35
Pelaksanaan temu pendidik nusantara. (Dok. Zaid Buri Prahastyo)
Pelaksanaan temu pendidik nusantara. (Dok. Zaid Buri Prahastyo)

Oleh: Zaid Buri Prahastyo
(Guru BK SMK Darussalam Makassar)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ada guru yang ijazahnya berjalan lurus menuju ruang kelas. Ada pula yang jalannya berbelok, menyeberang disiplin, lalu menemukan dirinya di tempat yang tidak pernah direncanakan. Saya termasuk yang kedua. Selama 17 tahun menjadi guru Bimbingan dan Konseling, saya membawa satu kenyataan: ijazah saya adalah Sarjana Perikanan.

Baca Juga : Guru dan Kasus Dugaan Keracunan MBG

Bagi sebagian orang, ini mungkin persoalan linieritas. Bagi saya, ini adalah bagian dari perjalanan yang membentuk cara saya melihat pendidikan. Saya tidak mengatakan bahwa linieritas tidak penting. Seorang guru tetap membutuhkan fondasi keilmuan dan kompetensi yang memadai. Namun, ada pertanyaan yang menurut saya layak diajukan: apakah seorang guru hanya boleh membawa apa yang tertulis di ijazahnya ke dalam ruang kelas?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dalam praktik pembelajaran bersama murid Asisten Perawat, saya membawa sesuatu yang dianggap berada di luar dunia BK: ekosistem perairan. Saya membawa laut, sungai, ikan, dan lingkungan perairan ke ruang BK. Bukan untuk mengajarkan perikanan, melainkan untuk menunjukkan bahwa pengalaman akademik seorang guru tidak harus kehilangan makna ketika ia memasuki ruang profesional yang berbeda. Warna bukan pengganti fondasi. Tetapi fondasi juga tidak seharusnya menghapus warna.

Dalam pembelajaran tersebut, murid membaca kasus, berdiskusi, bekerja dalam kelompok, mempresentasikan gagasan, dan saling memberikan umpan balik. Salah satu kesepakatan kelas yang muncul bahkan sederhana: “Tidak boleh baper.” Namun di balik kalimat itu, saya melihat sesuatu yang penting. Murid belajar menerima kritik, mendengar perspektif berbeda, dan memperbaiki gagasan. Bahkan murid yang biasanya pasif mulai terlibat dalam proses umpan balik.

Baca Juga : Kemensos Buka 8.000 Formasi Guru dan Tendik Sekolah Rakyat 2026

Pengalaman itu membuat saya berpikir: mungkin persoalannya bukan semata-mata seberapa lurus latar belakang seorang guru dengan materi yang dibawanya, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya mampu membuat murid bergerak, berpikir, bertanya, dan berkembang. Tentu, ini bukan berarti penguasaan keilmuan dapat diabaikan. Guru yang mengajar di luar bidang keahliannya tetap membutuhkan kompetensi, pengalaman, dukungan profesional, dan kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, persoalannya bukan sesederhana linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas. Seorang guru dibentuk oleh pengetahuan, kompetensi, pengalaman, refleksi, dan kemauan untuk terus berkembang. Saya melihat hal itu seperti ekosistem yang saya pelajari dalam perikanan. Tidak ada satu unsur yang hidup sendirian. Sungai memengaruhi laut. Lingkungan memengaruhi manusia. Dan manusia kembali memengaruhi lingkungan.

Pendidikan pun demikian.

Baca Juga : Insiden Presiden Prabowo Salah Ucap di Rapat Paripurna

Seorang murid tidak pernah datang ke ruang kelas hanya membawa nilai rapor. Ia membawa keluarga, lingkungan, pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan bayangan tentang masa depannya. Karena itu, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi. Guru juga perlu membantu murid menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan yang mereka hadapi.

Dunia mereka pun semakin kompleks. Perubahan teknologi, lingkungan, kesehatan, dan dunia kerja tidak mengenal batas mata pelajaran. Karena itu, pendidikan membutuhkan guru dengan fondasi yang kuat sekaligus kemampuan untuk menghubungkan berbagai perspektif.

PPG bagi saya akhirnya bukan sekadar perjalanan memperoleh sertifikat pendidik. Ia menjadi ruang untuk berdamai dengan perjalanan saya sendiri. Saya tetap guru BK. Tetapi saya tidak perlu meninggalkan laut yang pernah membentuk saya. Saya datang ke ruang kelas dengan seluruh pengalaman yang saya miliki.

Baca Juga : Guru yang Dikorbankan, Legislator Perempuan dari Gowa yang Menyelamatkan

Sebab pada akhirnya, guru bukan hanya ijazahnya. Ia adalah apa yang dipelajarinya, dialaminya, direfleksikannya, dan bagaimana semua itu digunakan untuk membantu murid tumbuh.

Linieritas adalah garis pijakan, bukan batas imajinasi.

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

Tag : Guru
KomentarAnda