HARIAN.NEWS – Serangan Israel terhadap warga Palestina yang mengantre bantuan terus bertambah. Kini, tercatat lebih dari 400 orang tewas akibat tembakan Israel saat menunggu bantuan.
Serangan Israel tersebut menuai kecaman keras dari internasional sejak terjadi pada Februari lalu. Teranyar, kantor media Gaza mengatakan serangan terbaru Israel terjadi saat orang-orang menunggu bantuan di Bundaran Kuwait.
Baca Juga : Unismuh Makassar Apresiasi Pemenang Lomba Video Ramadan, Ini Daftar Juara
“Tentara pendudukan bersikeras menargetkan mereka yang mencari nafkah untuk anak-anak mereka untuk memuaskan rasa lapar mereka,” jelas laporan kantor berita Gaza dikutip dari Al Jazeera melalui kumparan, Selasa (12/3/2024).
Bundaran Kuwait berada di antara wilayah tengah Jalur Gaza dan Kota Gaza, tempat masyarakat berkumpul dalam kelompok besar menunggu truk bantuan.
“Sejauh ini, setidaknya 11 orang dilaporkan tewas akibat serangan langsung oleh tank Israel yang ditempatkan di sekitar wilayah tersebut, berapa orang terluka, hampir 25 orang, dengan luka yang berbeda-beda,” jelas paramedis di rumah sakit al-Shifa.
Baca Juga : Anggota DPR RI Deng Ical Kecam Serangan Israel Tewaskan Prajurit TNI: Negara Harus Hadir
Krisis kemanusiaan di Palestina terus memburuk akibat serangan Israel. Selain tewas karena serangan, banyak orang meninggal karena dehidrasi dan kelaparan.
Kondisi itu pun kini terjadi di tengah suasana Ramadan. Sebagian masyarakat kesulitan mendapat akses makanan untuk berbuka puasa.
Di kota Rafah, di perbatasan selatan Gaza tempat 1,5 juta orang mengungsi, makanan berbuka puasa yang biasanya berlimpah di akhir puasa digantikan dengan makanan kaleng dan kacang-kacangan.
“Kami tidak mempersiapkan apa pun. Apa yang dimiliki para pengungsi?” kata warga Khan Younis, Mohammad al-Masry, yang mengungsi.
Baca Juga : Sepuluh Malam Terakhir Ramadan, FK UMI Gelar I’tikaf Bersama di Masjid Menara UMI
“Kami tidak merasakan nikmatnya Ramadan. Lihatlah orang-orang yang tinggal di tenda dalam cuaca dingin,” ujarnya.
“Ramadan (kali ini) memiliki rasa darah dan kesengsaraan, perpisahan dan penindasan,” kata Om Muhammad Abu Matar, yang juga merupakan pengungsi dari Khan Younis.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

