HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Upaya percepatan penurunan angka stunting tidak hanya bergantung pada intervensi tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
Berangkat dari semangat tersebut, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Makassar melaksanakan Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Laikang, wilayah kerja Puskesmas Sudiang Raya, Kota Makassar.
Baca Juga : Poltekkes Kemenkes Makassar Tingkatkan Kapasitas Kader Posyandu Lewat Pelatihan 25 Kompetensi Dasar
Program bertajuk “Membangun Kapasitas Masyarakat dalam Menanggulangi Wasting dan Stunting melalui Strategi Pelatihan, Pendampingan, dan Penyuluhan” ini dipimpin oleh Dr. H. Zakaria, STP., M.Kes, bersama Dr. Sirajuddin, SP., M.Kes, Erlani, SKM., M.Kes, serta melibatkan mahasiswa dari Program Studi Gizi dan Kesehatan Lingkungan.

Baca Juga : Poltekkes Makassar Gelar Sosialisasi Tablet Tambah Darah untuk Rematri di Bone
Kegiatan berlangsung selama lima hari, 27–31 Juli 2026, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Puskesmas Sudiang Raya, Pemerintah Kelurahan Laikang, Tim Penggerak PKK, kader Posyandu hingga masyarakat setempat.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penguatan kapasitas masyarakat dalam mendukung percepatan penurunan stunting dan wasting yang hingga kini masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan nasional.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional berhasil turun menjadi 19,8 persen. Meski menunjukkan tren positif, angka tersebut masih berada di atas target nasional sehingga berbagai intervensi berbasis masyarakat tetap harus diperkuat. Di Sulawesi Selatan sendiri, prevalensi stunting juga mengalami penurunan menjadi 23,3 persen, namun masih lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Baca Juga : Penerimaan Tamu Racana XVII Poltekkes Makassar Hadirkan Nuansa Budaya di Rumah Adat Kajang
Ketua tim pengabdian, Dr. H. Zakaria, mengatakan peningkatan kapasitas kader Posyandu merupakan salah satu strategi penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan dasar di masyarakat.

“Kader Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Ketika kader memiliki kemampuan yang baik dalam melakukan pengukuran pertumbuhan balita, memberikan edukasi gizi, serta mendampingi keluarga, maka upaya pencegahan stunting dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” ujarnya.
Baca Juga : Anggota Komisi I Beri Motivasi ke Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Makassar
Ia menjelaskan, sebelum kegiatan pelatihan dilaksanakan, tim terlebih dahulu menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama seluruh pemangku kepentingan.
Forum tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa persoalan stunting dan wasting menjadi prioritas utama yang harus ditangani melalui pemberdayaan masyarakat, peningkatan kompetensi kader Posyandu, edukasi keluarga, pemantauan pertumbuhan balita, hingga penguatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Pengabdian masyarakat Poltekkes Makassar.
Selain itu, FGD juga merekomendasikan pentingnya pendampingan praktik pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi anak usia 6–23 bulan, sekaligus pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui pembuatan kompos.
Pelatihan kemudian dilaksanakan di lima Posyandu sasaran, yakni Posyandu Bougenville 1 (RW I), Bougenville 4 (RW IV), Bougenville 5 (RW V), Bougenville 10 (RW X), dan Bougenville 12 (RW XII).
Sebanyak 25 kader kesehatan dan anggota PKK mengikuti pelatihan yang mengombinasikan metode teori, simulasi, praktik lapangan, pendampingan, hingga evaluasi melalui pretest dan posttest.

Materi yang diberikan cukup komprehensif, meliputi teknik pengukuran antropometri balita sesuai standar, pengukuran berat badan, panjang badan atau tinggi badan, lingkar kepala, Lingkar Lengan Atas (LiLA), pencatatan hasil pengukuran, hingga interpretasi awal status gizi.
Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai praktik pemberian MP-ASI yang sesuai prinsip gizi seimbang, aman, beragam, dan sesuai usia anak.
Tidak hanya fokus pada aspek gizi, kegiatan juga memasukkan materi pengelolaan lingkungan melalui pelatihan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Menurut tim pelaksana, lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Seluruh peserta menerima paket investasi berupa Buku Pedoman Keterampilan Dasar Kader, modul pelatihan, dan komposter yang diharapkan dapat dimanfaatkan di lingkungan Posyandu maupun rumah tangga.
Dr. Sirajuddin menilai metode pembelajaran berbasis praktik jauh lebih efektif dibanding penyampaian materi secara teoritis semata.
“Kami tidak hanya memberikan materi di dalam kelas, tetapi langsung mendampingi kader melakukan praktik pengukuran antropometri, pemantauan MP-ASI, hingga pengelolaan kompos. Dengan cara ini keterampilan peserta dapat meningkat secara nyata,” katanya.

Hasil evaluasi menunjukkan dampak positif dari program tersebut. Sebelum pelatihan masih terdapat kader dengan kategori pengetahuan kurang sebanyak 4,3 persen dan kategori cukup 8,7 persen.
Namun setelah mengikuti pelatihan, tidak ada lagi peserta yang berada pada kategori kurang maupun cukup.
Sebanyak 73,9 persen peserta mencapai kategori pengetahuan sangat baik, sementara 26,1 persen lainnya berada pada kategori baik.
Tidak hanya dari sisi teori, evaluasi praktik juga menunjukkan seluruh kader mampu melakukan pengukuran antropometri menggunakan timbangan digital, stadiometer, length board, pita LiLA, serta pengukuran lingkar kepala sesuai standar operasional prosedur.
Kader juga dinilai mampu melakukan pendampingan praktik pemberian MP-ASI kepada keluarga yang memiliki anak usia 6–23 bulan menggunakan lembar observasi sesuai pedoman yang telah disusun tim pengabdian.
Menurut Erlani, SKM., M.Kes, peningkatan kompetensi kader akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pelayanan Posyandu.
“Kader yang kompeten akan lebih percaya diri memberikan edukasi kepada keluarga. Ini akan memperkuat deteksi dini masalah gizi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu di masyarakat,” ungkapnya.
Program tersebut juga memperlihatkan kuatnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, PKK, kader Posyandu, dan masyarakat.
Model kolaboratif seperti ini dinilai menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam mendukung agenda pembangunan kesehatan, khususnya percepatan penurunan stunting yang menjadi prioritas nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, program pengabdian ini juga ditargetkan menghasilkan berbagai luaran akademik berupa publikasi pada jurnal nasional, publikasi di media massa, dokumentasi video edukasi, hingga modul pelatihan yang memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Tim pengabdian berharap model pemberdayaan masyarakat yang diterapkan di Kelurahan Laikang dapat direplikasi di wilayah lain sehingga semakin banyak kader Posyandu yang memiliki kompetensi dalam mendeteksi dini masalah gizi, mendampingi keluarga, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan semakin kuatnya kapasitas kader Posyandu, upaya menekan angka stunting dan wasting di Kota Makassar maupun Sulawesi Selatan diharapkan dapat berjalan lebih efektif, sekaligus mempercepat terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
(HSN)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
