Logo Harian.news

Operasi Kereta Perang Gideon hingga Blokir Seluruh Bantuan, Gaza Masuki Periode Terkelam

Editor : Rasdianah Senin, 19 Mei 2025 14:58
Warga Palestina menunggu untuk menerima makanan yang dimasak oleh dapur amal, di Jabalia, di Jalur Gaza utara, 14 Mei 2025. Foto: ist/reuters
Warga Palestina menunggu untuk menerima makanan yang dimasak oleh dapur amal, di Jabalia, di Jalur Gaza utara, 14 Mei 2025. Foto: ist/reuters
APERSI

HARIAN.NEWS – Perang di Jalur Gaza masuk periode terkelam. Kebijakan Israel memblokir seluruh bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza jadi biang keladinya.

Kondisi diperparah ketika pada Sabtu (17/5/2025) Israel mengumumkan dimulainya operasi darat besar-besaran di Gaza. Operasi ini dinamai Kereta Perang Gideon.

Baca Juga : Anggota DPR RI Deng Ical Kecam Serangan Israel Tewaskan Prajurit TNI: Negara Harus Hadir

Laporan berbagai lembaga kemanusiaan dan PBB, rangkaian serangan serta blokade bantuan kemanusiaan membuat ratusan orang terbunuh di Gaza beberapa hari terakhir. Saat bersamaan otoritas medis mengakui mereka mulai kehabisan obat.

Rumah Sakit Indonesia di Gaza bagian utara — rumah sakit yang dibangun atas donasi masyarakat Indonesia — juga menerima banyak korban luka dan korban tewas akibat serangan Israel. Bahkan, rumah sakit itu juga rusak imbas bombardir pasukan Zionis.

Sementara itu, Israel pada Senin (18/5/2025) ini hanya mengizinkan bantuan dasar dalam jumlah terbatas masuk ke Gaza. Bahaya kelaparan besar bukan cuma menghantui tapi sudah menjadi nyata di Gaza.

Baca Juga : Saat Prabowo Siap ke Teheran Fasilitasi Dialog

Dari catatan kantor Associated Press, Israel mulai memblokade bantuan pangan dan obat-obatan masuk ke Gaza sejak Maret 2025. Itu dilakukan tak lama selang gencatan senjata Israel Hamas berakhir.

Blokade bantuan pun diberlakukan Israel usai mereka menghancurkan sebagian besar Gaza. Kini 90 persen warga Gaza kehilangan tempat tinggal dan murni bergantung pada bantuan internasional.

Kondisi teranyar di Gaza, mayoritas dapur umum sudah tutup. Laporan Badan Pangan PBB (World Food Program/WFP) dan World Central Kitchen, sejumlah dapur kehabisan bahan.

Baca Juga : Amerika Serikat Serang Iran, Donald Trump Jadi Sorotan

Harga-harga sayur dan daging meroket di Gaza. Bahkan kedua bahan pokok itu masuk kategori langka.

Pemandangan yang kini terjadi di Gaza, berdasar laporan berbagai jurnalis dan sejumlah kantor berita, warga harus mengantre berjam-jam demi mendapat beras dalam jumlah kecil.

“Gaza kemungkinan akan dilanda kelaparan jika Israel tidak mencabut blokade dan menghentikan operasi militernya,” kata lembaga internasional urusan krisis kelaparan The Integrated Food Security Phase Classification, seperti dikutip dari Associated Press.

Baca Juga : Bosowa Peduli Kirim Daging Kurban ke Gaza di Tengah Krisis Kemanusiaan

“Hampir 500 ribu warga Palestina menghadapi kemungkinan kelaparan, hidup dalam bencana besar tingkat kelaparan , dan 1 juta lainnya hampir tidak bisa mendapatkan cukup makanan,” sambung mereka.

Saat ini baru sedikit bantuan kemanusiaan yang bisa masuk ke Gaza kendati blokade Israel berlaku. Salah satunya lembaga yang menamakan diri Yayasan Kemanusiaan Gaza.

Lembaga kemanusiaan asal AS itu melaporkan, mereka akan mendirikan sejumlah tempat bantuan dan dapur umum, yang akan dijaga oleh tenaga keamanan swasta.

“Setiap dapur bisa melayani 300 ribu orang, yang mencakup setengah dari populasi Gaza,” ujar Yayasan Kemanusiaan Gaza.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda