Logo Harian.news

Pemilu dan Anomali

Editor : Redaksi Sabtu, 24 Februari 2024 14:09
Abdul Jamil Al Rasyid.
Abdul Jamil Al Rasyid.

Oleh : Abdul Jamil Al Rasyid

(Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas, Anggota Lembaga Mahasiswa Jurusan (Lmj) Sastra Minangkabau)

HARIAN.NEWS – Pemilu merupakan singkatan dari pemilihan umum yang diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia. Di tahun 2024 ini, Indonesia menggelar pemilihan umum untuk kesekian kalinya sejak era kemerdekaan.

Karena pemilu merupakan pesta demokrasi besar-besaran yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Februari 2023 kemarin.

Pada pemilu kali ini, rakyat di seluruh Indonesia memilih perwakilan baik di tingkat kabupaten hingga nasional, tidak lupa juga memilih perwakilan yang berada di tingkat daerah dan yang paling panas tentunya adalah pemilihan presiden dan wakil presiden.

Pemilu kali ini penulis lihat berjalan dengan aman dan lancar di setiap daerah tanpa kesalahan yang berarti, tetapi tentu tidak ada yang sempurna karena setiap pemilu tentu ada kesalahan yang harus diperbaiki setiap tahunnya oleh negara maupun lembaga yang berwenang.

Kenapa pemilu dan anomali penulis sematkan dalam judul tulisan penulis kali ini. Karena anomali adalah suatu hal yang tidak seperti pernah ada. Maksudnya adalah pemilu yang masih berjalan dengan baik tetapi tidak memiliki mekanisme yang baik.

Salah satu yang paling penulis soroti dalam pemilu kali ini adalah anggota KPPS(kelompok penyelenggara pemilu) di setiap daerah. Hal ini yang seharusnya bekerja sesuai dengan rules yang berlaku menurut pengamatan penulis dan penulis banyak berita di mana-mana, anggota KPPS ini tidak banyak mengetahui tentang bagaimana penyelenggara pemilu dengan baik dan benar. Karena hal ini yang menjadi bumerang bagi PPS maupun PKK dari KPU itu sendiri.

Kesalahan yang sering dibuat oleh anggota KPPS adalah salah format laporan, salah hitung, jam tidak sesuai dengan aturan, dan lainnya. Hal ini yang membuat pemilu di berbagai daerah di protes oleh banyak partai politik karena banyak dari anggota dari penyelenggara pemilu kali ini tidak berkompeten. Penyebab dari hal ini menurut hemat penulis adalah kurangnya membaca serta memahami tata cara pemilu tersebut dengan baik oleh penyelengara pemilu.

Hal ini yang menimbulkan problematika dari pasangan calon yang sering protes terhadap hasil pemilu. Maka dari itu, kecurangan yang dituduhkan secara masif oleh parpol yang tidak menang pemilu masih berlanjut hingga sekarang.

Salah satu contoh yang paling besar ialah salah input suara salah satu pasangan calon presiden ke dalam Sirekap(aplikasi resmi KPU) yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu.

Karena hal ini mengakibatkan banyak protes dari kalangan parpol kontestan pemilu pada saat ini. Menurut hemat penulis, aplikasi tersebut harusnya memiliki banyak server karena pada saat pemilu dilangsungkan sering kali mengalami eror untuk menginput suara dari kontestan pemilu.

Maka dari itu kritik terhadap KPU sering terdengar deras karena sistem pemilu yang saat ini masih dilaksanakan secara manual dan juga belum terlaksana dengan baik.

Penulis berpendapat saat ini, pemilu 2024 sangat berbeda dengan pemilu 2019 karena adanya aplikasi Sirekap ini yang menjadi bumerang tersendiri buat KPU itu sendiri.

Maka dari itu, pelaksanaan pemilu 2024 ini banyak kalangan menilai semakin menurun dari segi kualitas teknis. Tetapi ada baiknya juga, pemilu kali ini tidak bisa dilakukan dengan kecurangan karena di dalam aplikasi Sirekap tersebut tertera foto hasil dari hitungan suara para calon.

Hal ini adalah salah satu dampak positif dari adanya aplikasi. Untuk membuktikan kecurangan sangat mudah karena foto asli dari hasil pemilu tersebut.

Tentu kekurangan serta kelebihan dari pemilu kali ini bisa dijadikan pembelajaran buat kedepan oleh penyelenggara pemilu. Karena pada saat ini, anggota penyelenggara pemilu berkurang secara signifikan dari segi kesehatan misalnya saja pada saat 2019 sekitar 800 orang petugas KPPS meninggal akibat kelelehan.

Pada pemilu kali ini hanya sekitar kurang dari 100 orang. Hal ini adalah kemajuan yang signifikan apabila pemilu 2024 ini adalah pemilu yang bisa dikatakan baik.

Tetapi banyak anomali dalam pemilihan anggota KPPS maupun PPS di tengah masyarakat karena orang-orang yang dipilih adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam pemilu.
Masalah seperti ini perlu diatasi dan juga menjadi bahan evaluasi untuk pemilu yang akan datang.

Karena kunci pemilu tentu terletak oleh penyelenggara. Karena kompeten dalam bekerja 24 jam adalah kunci dalam suksesnya pemilu 2024 kali ini. Penyelenggara pemilu tahun ini banyak kesalahan yang dibuat oleh penyelenggara karena pemilihan KPPS serta PPS tersebut menjadi anomali di tengah masyarakat.

Masyarakat tentu banyak yang komplen, misalnya anggota PPS yang tidak mengetahui tentang seluk beluk jam berapa proses penghitungan suara dihentikan. Hal ini adalah masalah yang lazim dan juga bisa diatasi dengan baik.

Untuk itu, kedepannya pemilu di Indonesia lebih baik lagi kedepannya karena dibalik panasnya persaingan tentu penyelenggara pemilu harus siap dengan konsekuensi dan juga mematuhi aturan yang telah dibuat bersama.

Masalah-masalah teknis seperti ini tentu harus bisa diatasi dengan baik dan juga harus bisa diproses sesuai dengan apa yang tertera dalam undang-undang. Karena pemilu adalah ajang untuk menentukan wakil rakyat selama 5 tahun kedepan.

Pemilu adalah hal yang paling krusial di tengah masyarakat karena dari tahun ke tahun, antusiasme masyarakat terhadap pemilu semakin bertambah. Maka dari itu, pihak penyelenggara perlu menggarisbawahi bahwasannya setiap elemen yang bertanggung jawab dengan pemilu harus diberikan kursus yang sebenarnya bukan hanya tergiur dengan iming-iming uang saja.

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda