HARIAN.NEWS, MAKASSAR — Sebuah buku catatan tiga lembar dan sebuah kaleng menjadi media refleksi Rektor UIN Alauddin Makassar saat menyampaikan pesan kepada tiga Guru Besar yang baru dikukuhkan.
Melalui dua benda sederhana itu, Rektor mengajak para Guru Besar memaknai kehidupan bukan dari seberapa banyak pencapaian atau seberapa keras suara yang terdengar, melainkan dari seberapa besar dampak, makna, dan nilai yang ditinggalkan.
Pesan tersebut disampaikan Rektor UIN Alauddin Makassar dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Rabu (26/8/2026).
Tiga Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Andi Susilawaty, S.Si., M.Kes., Prof. Dr. Muhammad Sabir, M.Ag., dan Prof. Dra. Rahmawati, M.A., Ph.D.
Sebelum menyampaikan dua refleksi tersebut, Rektor terlebih dahulu merespons pidato pengukuhan ketiga Guru Besar.
Kepada Prof. Andi Susilawaty atau Prof. Uci, Rektor menyoroti istilah Arab dalam judul pidato pengukuhan, “Membaca Jejak Fas?d: Analisis Kualitas Lingkungan sebagai Sistem Peringatan Dini Risiko Kesehatan.”
Di balik candaan mengenai pemilihan istilah tersebut, Rektor mengapresiasi gagasan Prof. Uci dalam membangun kerangka siklus untuk membaca persoalan lingkungan dan kesehatan.
Ia menekankan satu prinsip penting yang menurutnya menjadi inti dari gagasan tersebut, yakni ilmu harus bekerja sebelum risiko berkembang menjadi penyakit.
“Ilmu harus bekerja sebelum risiko menjadi penyakit,” tegasnya.
Rektor juga menyelipkan humor mengenai kebiasaan sebagian orang yang lebih memilih “minta maaf daripada minta izin”. Menurutnya, meminta maaf dilakukan setelah sesuatu terjadi, sedangkan meminta izin belum tentu berujung pada suatu peristiwa.
Sementara kepada Prof. Muhammad Sabir, Rektor menanggapi pidato berjudul “Tasamuh Integratif dalam Perspektif Hadis: Paradigma Baru Interpretasi Hadis bagi Harmoni Indonesia.”
Rektor kembali menyelipkan gurauan terkait penggunaan istilah tasamuh integratif. Namun, ia kemudian mengajak hadirin melihat makna tasamuh secara lebih luas.
Menurutnya, tasamuh telah mengandung nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Nilai tersebut dapat menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Ia menilai gagasan Prof. Sabir relevan untuk terus dikembangkan, terutama dalam menghadirkan toleransi, penghargaan, dan empati dalam kehidupan sosial tanpa menghilangkan prinsip yang diyakini.
Adapun kepada Prof. Rahmawati, Rektor merespons pidato pengukuhan berjudul “Islam dan Multikulturalisme: Tantangan Integrasi Ajaran Islam dan Adat pada Kerajaan Bone Abad ke-19.”
Rektor menyoroti kekhawatiran mengenai kemungkinan generasi mendatang semakin jauh dari warisan budaya akibat arus modernisasi.
Menurutnya, generasi saat ini masih relatif mengenal tradisi dan adat. Tantangan yang lebih besar justru berada pada generasi berikutnya yang berpotensi semakin jauh dari kampung halaman, keluarga, dan tradisi seperti makpatabe.
Karena itu, warisan budaya yang memiliki nilai positif perlu dijaga agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Buku Kehidupan
Setelah merespons ketiga pidato tersebut, Rektor menyampaikan dua renungan yang ditujukan kepada para Guru Besar baru dan seluruh hadirin.
Renungan pertama ia gambarkan melalui sebuah buku catatan yang hanya memiliki tiga lembar.
Lembar pertama menggambarkan kelahiran, lembar kedua dibiarkan kosong, sedangkan lembar ketiga menggambarkan kematian.
Menurut Rektor, kelahiran dan kematian merupakan bagian kehidupan yang berada dalam ketetapan Tuhan. Sementara lembar kedua menjadi ruang yang diberikan kepada manusia untuk diisi sendiri.
“Lembaran kedua Tuhan membiarkannya kosong, para profesor yang dikukuhkan, supaya kita bisa mencatatnya sendiri,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak para Guru Besar mengisi lembar kehidupan tersebut dengan sesuatu yang berdampak, bermakna, dan bernilai.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga ucapan, berbagi melalui kedermawanan, serta mengajar dengan menghadirkan kegembiraan dalam proses pembelajaran.
“Catatlah dengan menjaga mulut, menjaga kata-kata, karena mulut itu tidak punya tombol undo,” ungkapnya.
Dalam dunia pendidikan, ia juga mendorong para pendidik menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Menurutnya, pengetahuan akan lebih mudah diterima ketika proses pembelajaran tidak menjadi beban, tetapi memberikan pengalaman yang menggembirakan.
Kaleng Kehidupan
Renungan kedua disampaikan melalui sebuah kaleng.
Rektor memasukkan uang logam pecahan seribu rupiah ke dalam kaleng lalu mengguncangkannya. Uang tersebut menghasilkan suara yang cukup keras.
Setelah itu, ia memasukkan uang pecahan seratus ribu rupiah ke dalam kaleng yang sama. Ketika diguncangkan, uang tersebut hampir tidak menimbulkan suara, meski memiliki nilai jauh lebih tinggi.
Perbandingan sederhana itu menjadi gambaran tentang kehidupan.
Menurut Rektor, sesuatu yang paling banyak terdengar belum tentu memiliki nilai paling tinggi. Sebaliknya, sesuatu yang tidak banyak menimbulkan suara justru dapat memiliki nilai yang jauh lebih besar.
“Beginilah hidup, para profesor yang dikukuhkan. Kita memaknai hidup ini tanpa kita harus bersuara keras,” pesannya.
Ia mengajak para Guru Besar untuk tidak menjadikan suara atau sorotan sebagai ukuran utama dalam menjalani kehidupan. Yang lebih penting adalah ilmu, kebaikan, keteladanan, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Dua benda sederhana tersebut akhirnya menjadi pesan Rektor kepada tiga Guru Besar yang baru dikukuhkan bahwa gelar profesor bukan sekadar pencapaian akademik.
Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk mengisi “lembar kehidupan” dengan karya dan pengabdian, sekaligus membangun nilai tanpa harus selalu tampil dengan suara yang keras.
Bagi Rektor, kehidupan akademik pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang jejak yang ditinggalkan dan manfaat yang dirasakan orang lain.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
