HARIAN.NEWS, JAKARTA – Wakil Presiden atau Wapres ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla alias JK hadir mendampingi Calon Wakil Presiden (Cawapres) Muhaimin Iskandar berkampanye di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (10/1/2024).
Untuk diketahui, JK sebelumnya memang sudah menetapkan pilihan untuk mendukung pasangan Anies-Muhaimin (AMIN) di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024. Hal ini menjadi kejutan bagi sebagian pihak, sebab JK kerap memposisikan diri berada di tengah saat kontestasi pesta demokrasi lima tahunan ini.
Baca Juga : Merger Gerindra – NasDem dan Nasib Anies di Pilpres 2029: Peluang atau Jalan Buntu?
“Dulu saya ini netral, netral dalam arti kata punya pilihan sendiri. Terus terang kenapa (netral)? untuk menjaga kalau ada masalah saya bisa masuk ke mana-mana,” ujar pria karib disapa JK, dikutip dari liputan6, Rabu.
JK menjelaskan, posisinya yang kerap berada di tengah demi menjaga hubungan pertemanan yang baik dengan semua pihak, seperti Megawati dan juga Prabowo Subianto. Namun saat melihat situasi peta perpolitikan 2024, JK mengaku tidak bisa diam dan harus menentukan pilihan.
“Melihat keadaan ini ya sudahlah sekalian saja,” terang JK.
Baca Juga : Cak Imin: Idulfitri Momentum Kembali ke Fitrah dan Perkuat Solidaritas Sosial
Menurut JK, sosok Calon Presiden (Capres) Anies Baswedan adalah seorang yang baik. Dia menilai, mencari dan memilih pemimpin haruslah sesuai yang ilmu dan keyakinan yang diajarkan oleh Rasullullah Nabi Muhammad SAW.
“Kalau tabligh siapa yang terbaik? Anies. Kalau yang cerdas siapa? Anies. Yang paling amanah? Anies. Paling jujur siapa? Anies. Nah, itu aja pegangannya. Karena kita kan harus mengikuti ilmu Rasulullah,” papar JK.
JK lalu menyinggung untuk tidak memilih sosok pemimpin yang sulit mengendalikan emosi dan kerap marah-marah. Dia meyakini, negara bisa tidak stabil bila memiliki pemimpin yang tempramental.
Baca Juga : JK Soroti Akses Ibadah di Masjid Al-Aqsa, Nilai Bertentangan dengan Prinsip Kemanusiaan
“Kalau kawan kita yang satu itu marah terus, bagaimana kira-kira negara dipimpin oleh orang yang suka marah? Bagaimana kira-kira kalau dia berdebat dengan kepala negara lain? bisa ditonjok kepala negara lain,” canda JK.
“Jadi, harus hati-hati memilih pemimpin,” saran JK menandasi.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

