Logo Harian.news

Yang Lebih Busuk dari Fitnah Itu Sendiri, Kita

Editor : Andi Awal Tjoheng Kamis, 26 Maret 2026 18:24
Sulthan (Pemuda Tombolo Pao) ||Ist
Sulthan (Pemuda Tombolo Pao) ||Ist

Pertanyaan yang Tak Pernah Berani Diajukan oleh kita semua
Bagaimana kalau, isu perselingkuhan itu bukan skandal, tapi strategi? Bukan fakta, tapi alat politik murah?
Bukan kecelakaan, tapi operasi yang dirancang rapi? Bagaimana kalau ada orang-orang yang
tidak mampu menang melalui gagasan, tidak cukup kuat melalui jalur demokrasi, tetapi cukup licik untuk membunuh karakter?
Lalu mereka memilih jalan tercepat yaitu fitnah.

Mari kita bicara jujur.
Apa yang lebih mudah?
Membangun kepercayaan publik selama bertahun-tahun?
atau Menjatuhkan seseorang dalam 3 hari dengan isu perselingkuhan?
Apa yang lebih murah?
Kampanye politik bersih?
atau menyewa buzzer dan menyebar cerita kotor?

Baca Juga : DPRD Gowa Kaji Jawaban Bupati atas Rekomendasi RDPU, Soroti Tidak Adanya Klarifikasi Terbuka

Jika Anda cukup rasional, jawabannya jelas.
Jadi kenapa kita masih berpura-pura bahwa semua ini terjadi secara alami?

Kita Bukan Penonton. Kita Komplotan
Ini bagian paling tidak nyaman
Fitnah tidak akan pernah besar tanpa partisipasi masyarakat.
yang begitu saja
1.Share tanpa verifikasi
2.Komentar tanpa bukti
3.Tawa atas aib orang lain
Itu bukan hal kecil.
Itu adalah bahan bakar utama kebohongan. Kita sering merasa sedang “mengikuti berita”.
Padahal kita sedang membantu menghancurkan seseorang tanpa pengadilan, tanpa bukti, tanpa rasa bersalah.

Yang lebih amoral bukan tuduhannya, tapi Cara Kita Menyikapinya
Mari kembali ke pertanyaan paling tajam, Jika semua ini adalah hasil dari dendam, iri, dan ambisi yang gagal maka siapa yang lebih amoral?
Orang yang menyebarkan fitnah?Atau masyarakat yang menikmatinya?

Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG

Hari ini mungkin seorang Bupati.
Besok bisa siapa saja, tokoh masyarakat, tetangga Anda
bhkan anda sendiri
Jika standar kebenaran hanya
“yang viral pasti benar” maka tidak ada lagi yang aman.

Mulai hari ini mari curigai semua yang terlalu sensasional pertanyakan semua yang terlalu cepat dipercaya, lawan dorongan untuk ikut menyebarkan, daan yang paling penting adalah berhenti merasa paling tahu, padahal belum tahu apa-apa.

Sebagai penutup, fitnah itu selalu gaduh dan kebenaran seringkali sunyi.
Dan ironisnya, kita lebih memilih yang gaduh.
Jadi sebelum Anda percaya isu berikutnya, tanyakan satu hal:

Baca Juga : EL Nino Menyapa ? Sudah Siapkah Indonesia

“Saya sedang mencari kebenaran… atau hanya mencari hiburan dari kehancuran orang lain?”
Jika pertanyaan itu membuat anda tidak nyaman
berarti selama ini, anda memang tidak pernah benar-benar berpikir. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda