Para elite politik saling bersitegang, dan pemberontakan pecah di berbagai daerah.
Melihat situasi yang genting, Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk meminta saran. Sang Kiai kemudian mengusulkan sebuah silaturahmi di hari Lebaran.
“Para politisi tidak mau bersatu karena mereka saling menyalahkan. Solusinya, mereka harus saling ‘menghalalkan’. Itulah awal mula istilah Halal Bihalal digunakan sebagai instrumen rekonsiliasi nasional di Istana,” ungkap catatan sejarah mengenai peran Kiai Wahab.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibayangi Konflik, Arab Saudi Dorong Jalur Diplomasi AS-Iran
Bung Karno setuju. Ia mengundang semua tokoh politik yang berseteru ke Istana untuk makan bersama dan saling memaafkan.
Efeknya luar biasa; tensi politik mendingin, dan tradisi ini pun menetes hingga ke rakyat jelata hingga saat ini.

Foto arsip Presiden Soekarno saat menerima tamu di Istana dalam suasana penuh keakraban. ||foto facebook@arsipnasionalrepublikindonesia
Baca Juga : Halalbihalal DPRD Gowa, Perkuat Hubungan Antar Anggota
Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Mengapa tradisi Lebaran di Indonesia ini begitu sakral? Ada tiga makna mendalam di balik ritual ini:
Melepaskan Ikatan: Secara harfiah, “halal” berarti mengurai atau melepaskan. Ini adalah momen untuk mengurai benang kusut perselisihan yang terjadi selama setahun.
Baca Juga : Halal Bihalal DPW PGK Sulsel, Soroti Peran Pemuda Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global
Penyelesaian Horizontal: Jika puasa adalah urusan manusia dengan Tuhan (vertikal), maka Halal Bihalal adalah penyelesaian urusan antarsesama manusia (horizontal).
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
