HARIAN.NEWS, PANGKEP – Suatu hari di pertengahan Oktober tepatnya Senin (19/10/2026), suasana di Desa Pesisir Bulu Cindea, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan tampak sunyi. Di sepanjang jalan menuju Dusun Jollo, terlihat warga sedang sibuk membersihkan lahan kering yang luas. Rumput-rumput menguning, ranting pun kering. Sungguh kemarau panjang kian nyata.
Siang itu, hawa panas menguar dari tanah berpadu dengan terik mentari seolah membakar kulit dan menguras sisa tenaga. Dari jauh, Muhammad Johari (40) berjalan dari lahan tambak kering menuju rumahnya. Terlihat peluh membasahi tubuhnya. Sisa debu membekas di wajahnya.
Baca Juga : Semarak HUT ke-58, Semen Tonasa Perkuat Aksi Kemanusiaan Lewat Donor Darah
“Musim kemarau begini susah. Lahan mengering semua. Bertani rumput laut mami diandalkan. Kami masih menghitung hari untuk memulai lagi (budidaya rumput laut). Karena baru-baru panen,” ucap Joha saat bersiap duduk di balai-balai bambu kolong rumahnya.
Saat ditemui harian.news, Joha bercerita tentang pengalamannya mengolah rumput laut di daerah kumuh Bulu Cindea. Ia bilang sumber kehidupan warga pesisir Bulu Cindea selain membudidayakan ikan dan kepiting, juga menjadi petani rumput laut. “Dua pekerjaan ini punya untung besar bagi kami.”

Muhammad Johari, warga pesisir yang menerima bantuan dari Semen Tonasa. (Dok. Gita/HN)
Baca Juga : Gandeng PT Semen Tonasa, Pemkab Sinjai Olah Sampah Rumah Tangga Jadi Bahan Bakar RDF
Saat musim kemarau panjang, Joha menaruh harapan besar pada profesinya sebagai petani rumput laut, sebab lahan budidaya yang digarapnya selama ini mengering. “Untunglah kami dapat bantuan dari Semen Tonasa untuk mengolah rumput laut,” bebernya.
Sejak 2 tahun terakhir, PT Semen Tonasa telah memberikan uluran tangan kepada warga pesisir untuk membudidayakan rumput laut. Mereka mendapat bantuan berupa 100 kg bibit rumput laut per orang. Selain itu, bantuan tali, pelampung hingga wadah pengering juga diberikan.
“Bantuan ini sudah berlangsung 2 tahun. 2025 sampai sekarang 2026. Setiap orang 100 kg bibit. Alhamdulillah memberikan kami harapan. Ini sudah menjadi mata pencarian kami,” ujarnya.
Baca Juga : Pemkab Sinjai dan PT Semen Tonasa Jajaki Kerja Sama Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi RDF
Joha bercerita, sebelum bantuan Semen Tonasa menyentuh Dusun Jollo Bulu Cindea, ia dan sejumlah warga mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Memenuhi kebutuhan sehari-hari pun kerap menjadi tantangan.
“Kadang kami mengambil pekerjaan sebagai petani garam. Tapi keuntungannya tidak menentu. Kalau rumput laut menjamin. Karena 10 kilo kering kita bawa, bisa kita jual semua. Tapi kalau garam, 10 kilo belum tentu ada yang beli,” tutur Joha, menggambarkan perbedaan antara hasil budidaya rumput laut dan garam yang belum tentu langsung terserap pasar.
Kata Joha, 100 kg bibit rumput laut yang dibagikan Semen Tonasa, bisa menghasilkan 10-50 kg rumput laut kering dalam satu kali panen. Harganya juga bervariasi. Sesuai harga pasar. “Kalau sekarang harganya tinggi. Rp30 ribu per kilo. Bulan lalu saya panen 20 kg. Untungnya banyak,” kata Joha.
Baca Juga : Semen Tonasa Gelar Donor Darah Rutin, Hasilkan 120 Kantong
Keuntungan yang dirasakan Joha tiap bulannya menaruh harapan besar untuk bantuan Semen Tonasa ke depan. Ia berharap perusahaan yang dijuluki ikon pembangunan Indonesia Timur itu senantiasa melirik warga pesisir seperti mereka.
“Karena hanya ini yang bisa menjadi tumpuan kami agar dapur tetap mengepul dan pendidikan anak-anak kami di pesisir tetap terjamin,” pungkasnya.
Rumah Pengering Tingkatkan Kualitas Rumput Laut
Juma’, petani rumput laut yang juga mendapat bantuan dari Semen Tonasa mengatakan, dalam waktu dekat Semen Tonasa akan membangun rumah pengering untuk memudahkan warga megolah rumput laut.
“Jika rumah pengering yang dibangun Semen Tonasa jadi. Maka kualitas rumput laut akan lebih baik dan nilai jualnya lebih tinggi,” ucapnya.

Joha (tengah) dan Juma’ (kanan) sedang merapikan yali bentangan rumput laut. (Dok. Gita/HN)
Kata Juma’, pengolahan rumput laut selama ini hanya mengandalkan panas matahari lewat penjemuran manual. Hal tersebut memicu permasalahan pada kualitas rumput laut. “Kadang ada yang kotor karena debu atau terkena kotoran hewan. Ini yang mengurangi harga jual. Kadang tidak dihitung. Jadi rugi sedikit,” bebernya.
Persoalan tersebut telah didiskusikan dengan pihak Semen Tonasa. Sebagai tindak lanjut, akan dibangun rumah pengering di atas tanah milik Juma’. Fasilitas ini diharapkan dapat membantu petani rumput laut meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Juma’ bilang, selama ini bantuan Semen Tonasa turut membuka harapan bagi keluarganya untuk menjalani kehidupan yang lebih layak. September lalu, ia juga berhasil menjual 150 kilogram rumput laut yang dikumpulkan selama 2 bulan. Harga pasarnya Rp30.000 per kilogram. Dari penjualan tersebut, ia memperoleh keuntungan Rp4,5 juta.
Kini, budidaya rumput laut memberi mereka peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih terukur, meski hasil panen tetap dipengaruhi kondisi laut dan cuaca. Harapan berikutnya bertumpu pada rencana pembangunan rumah pengering rumput laut yang ditargetkan mulai dibangun dalam waktu dekat.
“Kami berharap fasilitas ini membantu kami mengeringkan hasil panen rumput laut dengan baik, berkurang juga’ risiko terkena debu dan kotoran. Supaya kalau dijual untungnya lebih banyak,” bebernya.
Bagi petani rumput laut di Bulu Cindea, transformasi tidak selalu hadir melalui perubahan besar dalam waktu singkat. Melalui bantuan berkelanjutan seperti yang dilakukan Semen Tonasa, harmonisasi antara perusahaan dan masyarakat dapat terbangun, sekaligus membuka peluang bagi petani rumput laut untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka.
400 Warga yang Diberdayakan
Kepala Desa Bulu Cindea, Made Ali, menjelaskan program corporate social responsibility (CSR) yang dijalankan secara berkelanjutan oleh PT Semen Tonasa memberikan dampak baik untuk warga pesisir yang penghasilannya tidak menentu.
Menurut Ali, sebelumnya, pembahasan budidaya rumput laut ini telah diulas dalam musyawarah dusun dan dibawa ke Musyawarah Rencana Kerja (Musrenja) dan Rencana Kerja Anggaran Pemberdayaan Masyarakat (RKAPM). “Dan sudah berjalan sampai sekarang sejak dimulai tahun 2025.”

Kepala Desa Bulu Cindea, Pangkep saat diwawancara harian.news di Dusun Jollo. (Dok. Gita/HN)
Pelaksanaan program ini dibagi menjadi 13 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 kepala keluarga (KK). Secara keseluruhan, ada 130 KK yang terlibat dalam program ini. “Nah, untuk 1 KK. Minimal ada 1 istri dan 1 anak yang turut mengelola rumput laut. Hitungan kasarnya sebanyak 390 sampai 400 orang yang ikut berdaya dalam program ini,” jelasnya.
“Semua yang terlibat dalam budidaya rumput laut bertugas untuk memilih bibit rumput laut, memasangnya ke tali dan membentangkan di laut lepas. Setelah kurang lebih 2 minggu, bibit yang telah jadi sudah bisa dipanen. Lalu dijemur dan dijual,” kata Ali menjelaskan proses budidaya rumput laut.
Untuk rencana pembangunan rumah pengering lanjut Ali, akan dilakukan secara bertahap dengan dua kelompok sebagai sasaran awal. Pendekatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk melihat manfaat fasilitas sebelum pengembangannya diperluas ke kelompok lain.
“Kami berharap, budidaya berkelanjutan yang dilakukan ini bisa semakin sukses dan makin banyak warga yang terlibat di dalamnya,” ujar Ali.
Tingkatkan Ekonomi Petani Rumput Laut
Melalui program ini, PT Semen Tonasa bertujuan mendukung pengembangan usaha kelompok petani rumput laut dan meningkatkan potensi ekonomi masyarakat pesisir Bulu Cindea. Hal ini disampaikan SM of Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Semen Tonasa, Abbas kepada harian.news.
Ia menjelaskan, program budidaya rumput laut bermula saat penyelenggaraan Musyawarah Rencana Kerja (Musrenja) dan Rencana Kerja Anggaran Pemberdayaan Masyarakat (RKAPM) berlangsung dalam forum Permata Desa Bulu Cindea.
Menurutnya, program ini hadir sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir melalui pendekatan bottom-up. Pendekatan tersebut merupakan pemberdayaan yang berangkat dari usulan dan kebutuhan warga.
“Kami juga melihat budidaya rumput laut bisa menjadi potensi ekonomi warga pesisir karena didukung oleh kondisi geografis yang mumpuni,”ucap Abbas.

Sebagian bantuan bibit rumput laut dari Semen Tonasa yang akan dibudidayakan. (Dok. Pribadi Made Ali, Kades Bulu Cindea)
“Program ini juga sejalan dengan arahan Danantara Asset Management dan BP BUMN mengenai prioritas pemberdayaan ekonomi dan usaha mikro dan kecil (UMK) di desa.”
Tak sampai di situ, Bulu Cindea juga masuk dalam wilayah desa lingkar satu atau Ring 1 yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan. Potensinya juga teridentifikasi melalui pemetaan sosial (social mapping).
Abbas mengatakan, pengembangan program budidaya rumput laut telah masuk dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) tahun 2025-2026. Semen Tonasa mengalokasikan dana lebih dari Rp209 juta untuk tahun 2025–2026. Anggaran tersebut terdiri atas Rp97.121.000 pada 2025 dan Rp111.968.934 pada 2026.
Bentuk bantuannya meliputi 900 kilogram tali bentangan berukuran 5 milimeter, 200 pak tali tambang kecil berukuran 1 milimeter, serta 2.000 kilogram bibit rumput laut.
“Semen Tonasa menyalurkan 50 unit pelampung jaring ikan, 5.000 botol plastik bekas berukuran 650 mililiter untuk pelampung, dan dua rol reflektor scotlight berukuran 5 centimeter,” jelasnya.
Tahun ini, perusahaan melebihkan alokasi dana untuk memberikan dukungan pembangunan green house atau rumah pengering rumput laut. Fasilitas ini diharapkan membantu petani dalam proses pengeringan hasil panen sehingga kualitas produk dapat lebih terjaga.
“Harapannya, bantuan ini dapat mendukung kelompok budidaya rumput laut yang sudah berjalan agar berkembang lebih baik lagi,” ujarnya.
Menyasar Akses Pasar yang Lebih Luas
Pjs. Partnership Program Officer Semen Tonasa, Muh. Syahreza Rifti, menuturkan pengembangan budidaya rumput laut sudah mulai berjalan dengan baik. Namun, ia berharap jangkauannya bisa lebih luas lagi hingga menyentuh pasar ekonomi.
“Saat ini, belum ada warga yang berani menumbuhkan nilai tambah ekonomi. Misalnya memanfaatkan budidaya rumput laut menjadi produk olahan. Saat ini, sumber daya manusia (SDM) masih terbatas. Namun, ini akan menjadi target kedepannya,” jelasnya.
Syahreza mengatakan, saat ini sebagian besar masyarakat pesisir masih berfokus pada kegiatan budidaya dan belum memiliki kelompok usaha yang siap mengembangkan produk olahan rumput laut.
“Potensinya ada, tetapi saat ini masyarakat masih berfokus pada budidaya. Belum ada kelompok yang siap menjadi pengolah produk rumput laut untuk menghasilkan nilai tambah,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia juga menjelaskan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menjalankan aktivitas budidaya di laut. Salah satunya, lokasi bentangan rumput laut yang bersinggungan dengan jalur kapal distribusi semen.
“Untuk mengatasi ini, kami sudah melakukan sosialisasi bersama pihak syahbandar terkait peta jalur distribusi kapal. Sehingga kami berharap kelompok petani bisa memahami wilayah yang aman tanpa mengganggu aktivitas pelayaran,” ujar Syahreza.
Ia menyampaikan, pengambangan budidaya rumput laut saat ini dilaksanakan secara bertahap mengikuti peta jalan (roadmap) yang disusun kelompok usaha. “Selain itu, kami juga membantu perluasan program melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Assamaturu yang berfokus pada pengembangan budidaya rumput laut.”
Melalui program tersebut, diharapkan ada dukungan dalam membuka akses pemasaran dan merancang pola kemitraan yang dapat dijalankan oleh kelompok usaha masyarakat.
Upaya yang dilakukan Semen Tonasa ini sejalan dengan tema HUT ke-58 “Navigating Transformation in Harmony”. Ke depan, penguatan kemampuan pengolahan, akses pemasaran, dan kemitraan usaha menjadi sejumlah aspek yang perlu dikembangkan agar transformasi desa pesisir lebih nyata.
“Kami ingin, potensi rumput laut Bulu Cindea tidak berhenti pada penjualan hasil budidaya saja, tetapi juga dapat menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” pungkas Syahreza.
Penulis: Gita Oktaviola
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
