HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Piring Makan Bergizi Gratis itu mungkin tampak sederhana. Tapi di baliknya, ada dua Indonesia yang merasakan hal berbeda.
Di hulu, di desa-desa, program ini adalah berkah. Sayur petani terserap, ikan nelayan laku, ayam, telur, dan kacang-kacangan punya pembeli pasti. Ekonomi yang lama lesu, kini bergerak.
Baca Juga : 100 Hari Kerja, Sudaryono Tutup 2 Ribu SPPG
Namun di hilir, di rumah-rumah kelas menengah yang setiap bulan taat membayar pajak, piring yang sama terasa berat. Siapa mereka? Mereka adalah guru, perawat, dosen, karyawan swasta, pegawai honorer, pedagang toko, pemilik warung, hingga UMKM yang setiap bulan dipotong PPh 21 sebelum sampai di rumah, membayar PPN saat belanja, dan tetap membayar iuran BPJS.
Bukan karena mereka pelit untuk berbagi, tapi karena di saat yang sama mereka juga harus antre gas, menghitung harga BBM, beli token listrik dan berjuang dengan biaya hidup yang tak turun.
MBG ujung-ujungnya adalah sebuah paradoks. Meski tujuannya baik, untuk memberi makan yang membutuhkan, meningkatkan gizi, dan mencerdaskan anak-anak bangsa sebagaimana amanat UUD 45, namun pelaksanaannya justru meninggalkan tanya di benak pembayar pajak.
Baca Juga : Prabowo Akui MBG Ada Kekurangannya
Luka kelas menengah bukan karena benci pada programnya, tapi karena merasa menjadi pemberi yang tak pernah disapa. Dan luka itu semakin menganga karena layar HP. Satu piring bermasalah di satu daerah, viral menjadi seribu cerita di beranda. Sementara ribuan piring yang berhasil, senyap tanpa sorotan.
Secara psikologis, dampak ini sangat tidak sehat. Rasa tidak adil yang dipendam terus-menerus, jika dibiarkan, dikhawatirkan akan melahirkan peristiwa yang tidak diinginkan secara keseluruhan. Luka kepercayaan yang seperti ini, butuh waktu yang sangat panjang untuk dipulihkan.
MBG adalah sebuah program unggulan presiden yang harus dijaga. Namun niat mulia saja tidak cukup. Ia butuh anggaran yang jujur dan transparan, kualitas diawasi dengan ketat, narasi juga dikoreksi, merangkul kelas menengah sebagai pahlawan yang membiayai, bukan sekadar penonton terabaikan, hanya diminta memaklumi.
Baca Juga : Saat Mimbar Dijual Mahal dan Perempuan Dihina Murah
Cita-cita mencerdaskan anak bangsa tidak akan lengkap tanpa menjaga perasaan adil bagi mereka yang menopang negara. Negara besar harus mampu memberi makan, tapi juga dibarengi mampu menjaga kehormatan setiap warganya yang telah berkorban. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
