HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan mendorong adanya kerja sama lintas daerah untuk mengatasi ketimpangan pasokan komoditas cabe rawit, yang selama ini kerap menjadi penyumbang inflasi.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Ricky Satria, menyampaikan hal ini dalam wawancara usai kegiatan Sulsel Talk Triwulan II Tahun 2025 yang digelar di Baruga Phinisi, Kantor BI Sulsel, Rabu (14/5).
Baca Juga : OJK dan BI Luncurkan PIDI, Dorong Inovasi Keuangan yang Aman dan Inklusif
“Cabe rawit ini masih menjadi salah satu komoditas utama yang menyumbang inflasi. Untuk itu, kami telah mendorong gerakan pangan murah dan pembentukan distribution center,” ucapnya.
“Ke depan, kami ingin ada forum koordinasi antar daerah, terutama antara daerah penghasil seperti Enrekang dan Bone, agar distribusi bisa lebih terstruktur,” tambah Ricky.
Menurutnya, beberapa daerah di Sulsel mengalami kelebihan produksi, sementara daerah lain justru kekurangan pasokan. Hal ini menimbulkan fluktuasi harga yang dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Baca Juga : BI Sulsel Dorong Investasi dan Hilirisasi untuk Perkuat Pertumbuhan Ekonomi
“Kami ingin mendorong agar kalau ada satu daerah kekurangan cabe rawit, bisa langsung disuplai dari sentra produksi. Dengan begitu, stabilitas harga lebih terjaga,” tegasnya.
Selain cabe rawit, Ricky juga menyoroti kontribusi komoditas beras terhadap pertumbuhan ekonomi Sulsel di awal tahun ini. Berdasarkan data BPS, produksi padi Sulsel mengalami kenaikan tajam sebesar 139 persen secara tahunan (year-on-year).
“Produksi padi kita tumbuh luar biasa. Sulsel tetap menjadi lumbung pangan nasional dan turut menyuplai kebutuhan beras di luar provinsi. Ini salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Sulsel di triwulan pertama 2025,” jelasnya.
Baca Juga : BI Waspadai Tekanan Inflasi 2026 di Sulsel, Bencana Alam dan HBKN Jadi Pemicu
Ricky menambahkan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pangan strategis.
Hal ini juga penting sebagai langkah antisipatif terhadap risiko global, termasuk dampak perang dagang yang memengaruhi rantai pasok.
Kegiatan Sulsel Talk TW II 2025 mengangkat tema “Ekonomi Sulsel di Pusaran Perang Dagang Global 2.0: Menakar Risiko, Menjemput Peluang”, dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga media.
Baca Juga : Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,99 Persen di Triwulan IV 2025, Masuk 10 Besar Nasional
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

