Logo Harian.news

Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 10 Juli 2026 07:46
Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi  ||(AI@harian.news)
Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi ||([email protected])

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Demokrasi bukan persoalan memilih pemimpin atau kebebasan menyampaikan pendapat saja. Demokrasi juga termasuk didalamnya bagaimana warga negara dibentuk untuk memahami persoalan publik dan bagaimana para pemimpin berkomunikasi dengan rakyat. Dalam praktiknya, sering berada di antara dua pendekatan yang berbeda.

Dalam ilmu politik, demagogi adalah sebuah pendekatan dengan memengaruhi masyarakat dengan memainkan emosi dan sentimen. Pedagogi, membangun kesadaran melalui pendidikan, penjelasan, dan dialog. Di sinilah kualitas demokrasi dipertaruhkan, apakah rakyat sekadar digerakkan oleh emosi atau diberdayakan melalui pengetahuan.

Baca Juga : Tenaga KDMP dan KNMP untuk Mencetak Kader Pembangunan Bukan Korban Kelalaian

Di tengah ramainya perdebatan politik dan sosial, kita sering mendengar orang berbicara lantang seolah-olah membawa suara rakyat. Ada yang pandai membangkitkan emosi dan menciptakan ketakutan, ada pula yang sabar menjelaskan persoalan. Membangun pemahaman melalui, pendidikan, data, dialog dan penyampaian fakta agar masyarakat mampu berpikir dan mengambil keputusan secara sadar.

Demagogi mudah menarik perhatian karena menawarkan jawaban yang terdengar sederhana untuk persoalan yang sebenarnya rumit bahkan mencacimaki. Kalimat seperti, “Semua ini akibat ketololan mereka,” atau “Kalau saya memimpin, semua akan beres,” terasa meyakinkan dan memberi harapan instan. Padahal, masalah bangsa tidak pernah sesederhana itu. Ketika emosi lebih diutamakan daripada pemahaman, masyarakat menjadi mudah terpecah, sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi lupa mencari bagaimana persoalan dapat diselesaikan.

Sebaliknya, pedagogi memang tidak selalu menarik untuk didengar. Ia mengajak masyarakat memahami mengapa suatu kebijakan diambil, apa manfaatnya, apa risikonya, dan pilihan apa saja yang tersedia. Proses ini membutuhkan kesabaran karena tidak menawarkan jawaban instan. Namun justru melalui cara inilah masyarakat tumbuh menjadi warga negara yang kritis, tidak mudah terprovokasi, serta mampu mengawasi dan menilai kebijakan berdasarkan pengetahuan, bukan semata-mata karena emosi.

Baca Juga : Pers Bermartabat Ketika Memilih Tidak Mengadili

Bangsa yang sehat sesungguhnya memerlukan keduanya dalam porsi yang tepat. Kita membutuhkan semangat untuk menyadarkan masyarakat ketika ada ketidakadilan atau persoalan yang harus segera diperbaiki. Namun setelah perhatian publik terbangun, yang lebih dibutuhkan adalah penjelasan, pendidikan, dan dialog yang jujur agar semangat itu berubah menjadi solusi. Tanpa semangat, perubahan sulit dimulai. Tanpa pendidikan, perubahan mudah kehilangan arah.

Karena itu, sebagai warga negara kita tidak cukup hanya menjadi pendengar pidato yang berapi-api. Kita juga perlu menjadi pembelajar yang mau bertanya, membaca, dan memahami persoalan secara utuh. Bangsa yang kuat bukan yang warganya paling pandai marah, melainkan yang warganya mampu berpikir jernih sebelum mengambil sikap. Sebab masa depan tidak dibangun oleh retorika yang membakar emosi, melainkan oleh pengetahuan yang menerangi akal dan kebijaksanaan dalam bertindak.***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda