Logo Harian.news

Dibawah Kepemimpinan Taruna Ikrar, BPOM RI Perkuat Kolaborasi Global dengan A*STAR dalam Terapi Gen dan Sel

Editor : Redaksi Selasa, 21 April 2026 10:10
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar dalam lawatan kerja ke Singapura, Selasa (21/4). (Dok. YUD)
Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar dalam lawatan kerja ke Singapura, Selasa (21/4). (Dok. YUD)
APERSI

HARIAN.NEWS, SINGAPURA – Ditengah percepatan inovasi bioteknologi global, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan baru dalam tata kelola regulasi kesehatan dunia.

Dalam kunjungan strategis ke Singapura, Taruna Ikrar disambut oleh jajaran pimpinan Agency for Science, Technology and Research (A*STAR), lembaga riset terdepan yang menjadi episentrum pengembangan terapi sel dan gen di kawasan Asia.

Baca Juga : Taruna Ikrar Terima Penghargaan atas Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan dari GP Farmasi Indonesia

Pertemuan ini tidak sekadar seremoni diplomatik, melainkan momentum penting yang menandai pengakuan internasional terhadap kapasitas regulatori Indonesia.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa BPOM telah resmi meraih status WHO Listed Authority (WLA) pada akhir 2025 sebuah capaian prestisius yang menempatkan Indonesia sejajar dengan otoritas regulasi negara maju dan membuka jalan bagi pengakuan global terhadap produk farmasi nasional.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar didampimgi Stafsus Kepala BPOM RI, dr. Wachyudi Muchsin di Singapura, Selasa (21/4). (Dok. HMS)

Baca Juga : Taruna Ikrar Bawa BPOM Masuk 6 Besar Nasional IKD ASN, Tata Kelola SDM Berbasis Data Makin Kuat

“Status WLA bukan sekadar simbol, melainkan bukti bahwa sistem regulasi Indonesia telah diakui dunia. Ini menjadi fondasi kuat untuk mempercepat akses masyarakat terhadap terapi inovatif sekaligus mendorong daya saing industri farmasi nasional di pasar global,” ujar Taruna Ikrar di kantor A*STAR Singapura Selasa 21 April 2026.

Dalam forum ilmiah dan strategis tersebut, A*STAR secara terbuka mengajak BPOM untuk menjalin kolaborasi dalam pengembangan terapi gen dan sel, termasuk teknologi mutakhir seperti induced pluripotent stem cell (iPSC) dan terapi sel CAR-T. Ajakan ini mencerminkan tingginya kepercayaan komunitas riset internasional terhadap kapabilitas BPOM dalam mengawal keamanan, mutu, dan efektivitas produk terapi lanjutan.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa BPOM telah menyiapkan kerangka regulasi yang adaptif dan progresif untuk mendukung inovasi tersebut.

Baca Juga : Taruna Ikrar Sidak di Batam, Rapat di BPOM Pastikan Daerah Perbatasan Diperhatikan untuk Keamanan Pangan Jelang Idulfitri 1447 H

Melalui mekanisme Investigational New Drug (IND) serta regulasi Produk Obat Terapi Lanjutan (ATMP), BPOM memastikan bahwa setiap tahapan pengembangan mulai dari riset hingga uji klinis dan produksi berjalan sesuai standar global yang ketat namun tetap efisien.

“Kami tidak hanya menjaga keamanan publik, tetapi juga menjadi enabler bagi inovasi. Kolaborasi dengan A*STAR akan mempercepat transfer pengetahuan, penguatan kapasitas nasional, serta membuka peluang uji klinis multinasional yang akan menguntungkan Indonesia,” tegasnya.

Didampingi Staf Khusus BPOM RI dr Wachyudi Muchsin, lebih jauh, Taruna Ikrar menekankan pentingnya pendekatan ABG (Academic–Business–Government) sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan nasional.

Baca Juga : Taruna Ikrar: BPOM Temukan 56 Ribu Produk Pangan Berbahaya Jelang Idul fitri Rugikan 103 Milyar

Menurutnya, sinergi antara perguruan tinggi sebagai pusat riset, industri sebagai penggerak hilirisasi, serta pemerintah sebagai regulator dan fasilitator menjadi kunci percepatan pengembangan terapi canggih di Indonesia.

“Konsep ABG adalah kekuatan Indonesia. Ketika akademisi menghasilkan inovasi, industri mengembangkan dan memproduksi, serta pemerintah memastikan regulasi dan kualitas, maka ekosistem akan bergerak cepat dan berkelanjutan. Inilah model yang kami dorong untuk terapi gen dan sel,” jelas Taruna Ikrar.

Diskusi juga menyoroti pentingnya penguatan aspek manufaktur terapi sel, termasuk penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) pada fasilitas pemrosesan sel di Indonesia. Saat ini, BPOM telah mengawal pengembangan puluhan fasilitas sel punca nasional sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian farmasi berbasis bioteknologi.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk lebih aktif dalam ekosistem riset global, sekaligus mempercepat hadirnya terapi-terapi canggih bagi masyarakat.

Dengan pendekatan ABG yang terintegrasi dan pengakuan internasional melalui WLA, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjadi pemain utama dalam inovasi kesehatan dunia.

Langkah Taruna Ikrar di Singapura ini menegaskan bahwa BPOM tidak lagi sekadar regulator domestik, tetapi telah bertransformasi menjadi institusi strategis berkelas dunia.

Dengan status WLA dan kemitraan internasional yang kian luas, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda