HARIAN.NEWS – Memasuki bulan Ramadhan, “perang sarung” menjadi tren di sejumlah kalangan anak-anak dan remaja.
Fenomena perang sarung di bulan Ramadhan kerap berujung terjadinya bentrokan, aktifitas tersebut memicu kekhawatiran masyarakat dan mencuri perhatian banyak pihak termasuk aparat kepolisian.
Baca Juga : Pink Moon April 2026 Bisa Dilihat di Indonesia, Catat Waktu dan Cara Mengamatinya
Alih-alih memanfaatkan momen Ramadhan dengan baik untuk beribadah, sejumlah remaja yang terlibat perang sarung tersebut justru malah bersikap anarkis, saling serang satu sama lain hingga menimbulkan korban luka-luka.
Pengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiawan. Dalam tanggapannya mengatakan bahwa fenomena merayakan Ramadhan dengan kegembiraan adalah baik, namun tidak dengan cara perang sarung yang berpotensi memunculkan masalah serius saat mengarah pada perilaku destruktif, mengganggu masyarakat, hingga mengarah pada kriminal.
Ia berpendapat bahwa di bulan Ramadhan ini kiranya pemerintah perlu hadir untuk memberikan perhatian lebih terhadap penyediaan ruang publik yang lebih sehat, aman dan produktif khususnya bagi para anak-anak atau remaja.
Baca Juga : 3 Kepala Daerah Diciduk KPK saat Bulan Ramadhan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

