HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Harga tiket perjalanan masih menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam mendorong pertumbuhan pariwisata nasional.
Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia Ni Luh Enik Ermawati mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan kementerian terkait dan pelaku industri untuk menjaga akses masyarakat terhadap destinasi wisata.
Baca Juga : Wisuda 603 Lulusan, Poltekpar Makassar Ungkap Capaian Job Fair dan UI GreenMetric
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri prosesi Wisuda yang digelar Poltekpar Makassar, Sabtu (19/9/2026).
Ni Luh Enik mengatakan persoalan harga tiket, khususnya transportasi udara, membutuhkan koordinasi lintas kementerian karena kewenangan terkait harga tiket berada pada Kementerian Perhubungan.
“Harus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan karena harga tiket ini tentu menjadi kewenangan dari Kementerian Perhubungan dan ini juga menjadi atensi Presiden,” ujar Ni Luh Enik.
Baca Juga : Poltekpar Makassar Gelar EduRun Tourism 2026, Peserta Bakal Jelajahi Rute Pesisir
Menurutnya, pemerintah telah memberikan subsidi pada periode tertentu untuk membantu masyarakat menjangkau biaya perjalanan.
Kebijakan tersebut diterapkan pada momentum dengan tingkat mobilitas tinggi, seperti libur Lebaran, libur sekolah, dan libur akhir tahun.
“Dari sisi pemerintah menghadirkan subsidi-subsidi pada periode tertentu seperti libur Lebaran, libur anak sekolah, kemudian juga libur akhir tahun,” katanya.
Baca Juga : Poltekpar Makassar Perkuat Kolaborasi Pengembangan Desa Wisata Sanrobone
Selain subsidi, Kementerian Pariwisata mendorong pelaku industri menghadirkan paket perjalanan yang lebih kompetitif.
Salah satu pendekatan yang didorong ialah penjualan paket secara bundling sehingga berbagai kebutuhan wisata tidak harus dibeli secara terpisah.
“Kami koordinasi dengan teman-teman industri pariwisata, bagaimana kita bisa menghadirkan paket-paket yang lebih kompetitif, bundling-bundling,” ujar Ni Luh Enik.
Baca Juga : 728 Lulusan Resmi Diwisuda, Unibos Tegaskan Komitmen Cetak SDM Unggul
Menurut dia, paket bundling memungkinkan pelaku industri melakukan pengaturan harga melalui berbagai komponen perjalanan sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan ketika merencanakan perjalanan wisata.
Upaya tersebut dilakukan di tengah pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang disebut masih menunjukkan tren positif.
“Kami lihat juga kunjungan wisatawan baik itu mancanegara maupun wisatawan nusantara saat ini masih terus tumbuh positif dan kami tetap optimistis bahwa Indonesia masih menjadi destinasi tujuan dari wisatawan baik mancanegara maupun nusantara,” katanya.
Pasar Asia dan Oceania Diperkuat
Selain persoalan akses dan harga perjalanan, perubahan kondisi geopolitik dan geoekonomi global juga menjadi tantangan bagi pemasaran pariwisata Indonesia.
Ni Luh Enik mengatakan Kementerian Pariwisata melakukan adaptasi pasar dengan memperkuat pasar jarak dekat dan menengah, khususnya kawasan Asia dan Oceania.
“Kita tetap harus adaptif terhadap perubahan. Ketika kondisi geopolitik, geoekonomi berubah dan ada perang di Timur Tengah, kami langsung melakukan adaptasi pasar dengan memperkuat pasar yang medium haul dan juga short haul seperti Asia dan Oceania,” ujarnya.
Penguatan pasar dilakukan melalui kolaborasi dengan industri pariwisata, termasuk sales mission dan partisipasi dalam berbagai pameran pariwisata.
Strategi pemasaran juga diperkuat melalui kanal digital dan penjualan secara langsung. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga minat wisatawan di tengah perubahan kondisi global.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
