HARIAN.NEWS, JAKARTA – Tokoh nasional sekaligus pengusaha Hashim Djojohadikusumo mengapresiasi kiprah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang semakin menunjukkan eksistensinya di tingkat global di bawah kepemimpinan Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D.
Menurut Hashim, penguatan BPOM menjadi institusi berkelas dunia merupakan bagian penting dalam membangun kemandirian, daya saing, sekaligus ketahanan nasional Indonesia.
Apresiasi tersebut disampaikan Hashim dalam pertemuan dan diskusi bersama Taruna Ikrar. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pendekatan kolaboratif yang dikembangkan Kepala BPOM melalui konsep ABG, Academia, Business, dan Government. Konsep ini menempatkan perguruan tinggi dan peneliti, dunia usaha, serta pemerintah dalam satu ekosistem yang saling memperkuat untuk mendorong inovasi sekaligus memastikan perlindungan masyarakat.
Hashim menilai Indonesia memiliki kekuatan besar berupa sumber daya alam, biodiversitas, sumber daya manusia, serta pasar yang luas. Potensi tersebut perlu ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi dan kesehatan melalui riset, inovasi, hilirisasi, investasi, serta regulasi yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Indonesia membutuhkan institusi yang kuat, kredibel, dan mampu berbicara pada level internasional. Saya mengapresiasi BPOM di bawah kepemimpinan Prof. Taruna Ikrar yang terus memperkuat kapasitas dan jejaring globalnya. Kolaborasi pemerintah, akademisi, dan dunia usaha menjadi sangat penting agar potensi besar Indonesia dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Hashim.
Taruna Ikrar: ABG Menjembatani Sains hingga Hilirisasi
Taruna Ikrar menjelaskan bahwa konsep ABG dibangun atas kesadaran bahwa kemajuan sektor obat dan makanan tidak mungkin dikerjakan pemerintah sendiri. Academia menjadi sumber ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi; Business menggerakkan investasi, produksi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja; sedangkan Government membangun regulasi, kepastian hukum, fasilitasi, serta perlindungan masyarakat.
Menurut Taruna, ketiga unsur tersebut tidak boleh berjalan dalam ruang masing-masing. Riset yang unggul perlu memiliki jalur menuju industri, sementara industri membutuhkan kepastian regulasi dan ekosistem yang kondusif agar inovasi dapat berkembang tanpa mengabaikan aspek keamanan, khasiat/manfaat, mutu, dan kepentingan masyarakat.
“ABG bukan sekadar konsep kolaborasi, tetapi sebuah ekosistem. Akademisi melahirkan pengetahuan dan inovasi, dunia usaha melakukan hilirisasi dan menciptakan nilai ekonomi, sementara pemerintah memastikan regulasi memberikan perlindungan sekaligus membuka ruang bagi inovasi. Ketiganya harus bergerak bersama,” kata Taruna Ikrar.
Dari Regulator Nasional Menuju Pemain Global
Transformasi BPOM, lanjut Taruna, diarahkan agar lembaga tersebut tidak hanya kuat sebagai regulator di dalam negeri, tetapi juga semakin diperhitungkan dalam ekosistem regulatori global. Penguatan standar, kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, kerja sama internasional, serta regulatory science menjadi fondasi menuju regulator berkelas dunia.
Posisi tersebut memiliki nilai strategis bagi Indonesia. Regulator yang kredibel secara internasional dapat memperkuat kepercayaan terhadap produk Indonesia, mendukung industri farmasi dan pangan memasuki pasar global, menarik investasi berbasis inovasi, sekaligus mempercepat pengembangan produk hasil riset anak bangsa.
Hashim menyambut positif arah tersebut. Menurutnya, kekuatan regulasi harus berjalan beriringan dengan agenda pembangunan ekonomi nasional. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi produk global, tetapi harus semakin mampu menjadi pusat produksi, inovasi, dan pengembangan teknologi.
Regulasi sebagai Jembatan Inovasi
Taruna Ikrar menegaskan bahwa paradigma regulator modern telah berkembang. Regulasi tidak semata-mata hadir sebagai instrumen pengawasan, tetapi juga harus menjadi jembatan antara sains, inovasi, industri, dan perlindungan masyarakat.
Dalam kerangka ABG, BPOM terus mendorong komunikasi dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, pelaku UMKM, serta berbagai kementerian dan lembaga. Sinergi tersebut diharapkan mempercepat lahirnya produk inovatif Indonesia yang aman, berkhasiat atau bermanfaat, bermutu, kompetitif, dan mampu menembus pasar internasional.
“Visi kita bukan hanya BPOM yang mendunia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kredibilitas regulator menjadi pintu bagi produk-produk Indonesia untuk mendunia. Ketika sains, industri, dan pemerintah berada dalam satu ekosistem, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan global di bidang obat dan makanan,” ujar Taruna.
Pertemuan tersebut sekaligus mempertegas pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan agenda besar Indonesia menuju negara maju. Dengan kekuatan sains, dunia usaha, dan pemerintah yang bergerak bersama melalui konsep ABG, BPOM diharapkan menjadi salah satu motor penggerak kemandirian kesehatan, peningkatan daya saing industri, dan diplomasi regulatori Indonesia di tingkat dunia.
“Regulator yang kuat melindungi rakyat, regulator yang dipercaya memperkuat industri, dan regulator yang mendunia membuka jalan bagi Indonesia untuk ikut menentukan standar global,” pungkas Taruna Ikrar.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
