Padahal, manfaat ketika produk pertanian diolah menjadi barang siap konsumsi, mulai dari singkong yang dijadikan keripik premium, cabai menjadi sambal kemasan, hingga buah lokal menjadi minuman olahan, kelapa olahan bisa sebagai pengganti susu, nilai ekonominya meningkat berkali lipat.
Dengan cara ini, pendapatan petani dapat lebih stabil, peluang kerja terbuka lebih luas, dan ketergantungan pada impor dapat ditekan secara bertahap.
Baca Juga : Bupati Sinjai Dorong SRG Perkuat Ketahanan Pangan dari Daerah
Di tengah ancaman krisis akibat konflik global, kemandirian pangan menjadi tameng utama.
Negara yang kuat bukan hanya yang memiliki persenjataan canggih, tetapi juga yang mampu memastikan rakyatnya tidak kekurangan pangan saat krisis melanda.
Ketika dunia sibuk dengan rivalitas geopolitik, kita seharusnya sibuk memperkuat fondasi pangannya sendiri.
Baca Juga : Waspada El Nino Godzilla, Bupati Bantaeng: Ini Bukan Musim Kemarau Biasa
Edukasi harus dimulai dari contoh yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak selalu berarti membangun pabrik besar, tetapi juga soal keterampilan mengolah hasil panen, memanfaatkan teknologi sederhana, dan memahami rantai pasok.
Pelatihan, pendampingan usaha, serta workshop praktis menjadi elemen penting dalam proses ini.
Selain itu, kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan. Pemerintah, UMKM, komunitas lokal, pelaku industri, hingga platform digital perlu berkolaborasi menyediakan akses permodalan, peralatan, dan pasar.
Baca Juga : Ketahanan Pangan Bukan Slogan Politik
Produk harus didorong hadir tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga di pasar modern dan ruang digital.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

