HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Awal tahun 2026 menjadi alarm bagi perekonomian Sulawesi Selatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year) Sulsel telah mencapai 4,11 persen, angka yang dinilai cukup tinggi dan melampaui target ideal.
Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Kantor Gubernur Sulsel, Jumat, 13 Februari 2026. Sejumlah kabupaten/kota bahkan mencatat inflasi lebih tinggi dari rata-rata provinsi.
Baca Juga : Gejolak Israel-AS dan Iran Dorong Harga Emas Berpotensi Tembus Rp4 Juta Per Gram
Bank Indonesia Perwakilan Sulsel juga memberi peringatan khusus kepada daerah dengan tren kenaikan signifikan seperti Sidrap, Wajo, Parepare, Makassar, Luwu Timur, Palopo, dan Bone.
Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menjadi sorotan setelah inflasinya menembus 5,63 persen, jauh di atas rata-rata nasional.
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengatakan secara bulanan angka inflasi idealnya berada di bawah 0,29 persen. Namun realisasi awal tahun ini menunjukkan lonjakan yang perlu diantisipasi.
Baca Juga : Bank Emas Makin Moncer, Pegadaian Catat Transaksi 33,7 Ton di 2025
“Inflasi awal tahun ini sudah harus diwaspadai. Permintaan meningkat dan pedagang menyesuaikan harga. Pemerintah daerah harus bergerak cepat,” ujarnya.
Menariknya, pemicu inflasi kali ini bukan semata bahan pokok seperti beras atau minyak goreng. Harga emas justru menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi sekitar 8,16 persen.
Selain itu, komoditas ikan segar seperti ikan layang (8,24 persen), cakalang (7,67 persen), dan bandeng ikut mendorong inflasi, terutama akibat cuaca buruk yang mengganggu pasokan.
Baca Juga : Pegadaian Perkuat Sistem Pengawasan Transaksi Emas Bernilai Besar
Rizki menekankan penguatan strategi 4K dalam pengendalian inflasi, yakni ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif.
Ia mendorong pemerintah daerah memperbanyak Gerakan Pasar Murah serta menyusun perencanaan tanam dan panen yang terkoordinasi.
“Biasanya cabai naik menjelang Lebaran. Tiga bulan sebelumnya sudah harus ditanam, bahkan di pekarangan rumah. Jadi saat hari raya tiba, sudah bisa dipetik,” katanya.
Baca Juga : Saat Emas Menggeliat, Pegadaian Melenggang Cermat
Ia juga meminta kabupaten/kota menyusun pemetaan jadwal tanam dan panen agar surplus di satu daerah dapat menutup kekurangan di wilayah lain. Tanpa koordinasi, disparitas harga akan terus terjadi.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, mengakui tingginya inflasi di daerahnya dipicu harga emas dan komoditas perikanan. Namun ia juga menyoroti faktor gaya hidup masyarakat.
“Harga emas, skincare, ikan layang, bandeng, tuna karena kami tidak punya laut,” ujarnya dalam rapat TPID.
Menurutnya, emas dan produk perawatan kulit telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehingga sulit dikendalikan karena bukan kebutuhan pokok yang bisa diintervensi pemerintah.
Untuk komoditas ikan laut, Sidrap yang tidak memiliki wilayah pesisir harus bergantung pada daerah lain. Pemerintah daerah berencana memperkuat kerja sama distribusi dengan kabupaten pesisir seperti Jeneponto agar suplai lebih terjamin.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, menegaskan pentingnya memastikan ketersediaan komoditas utama menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan.
Ia mendorong kerja sama antar daerah, misalnya Sidrap dapat memasok ikan dari Barru atau Pangkep, sementara Palopo bisa bekerja sama dengan Enrekang untuk bawang.
Pemprov Sulsel juga membuka opsi penggunaan Biaya Tidak Terduga (BTT) untuk membantu subsidi transportasi distribusi pangan, mengingat ongkos angkut sering menjadi pemicu kenaikan harga.
Pemerintah menargetkan inflasi dapat ditekan mendekati 2 persen. Namun tantangan dinilai tidak ringan, terutama di tengah tekanan ekonomi nasional dan potensi penurunan daya beli masyarakat.
Dengan inflasi yang sudah tinggi sejak awal tahun, koordinasi lintas daerah dan langkah cepat menjadi kunci agar lonjakan harga tidak semakin terasa menjelang Ramadan dan Idul Fitri, saat kebutuhan masyarakat meningkat.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

