Logo Harian.news

Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 24 April 2026 11:21
Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata (doc_suaramahasiswa)
Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata (doc_suaramahasiswa)
APERSI

Mungkin ia merasa itu sekadar ungkapan atau ekspresi, tetapi konsekuensinya nyata “kepanikan, kecurigaan, dan tindakan tegas dari otoritas”. Dalam konteks publik, retorika yang mengandung ancaman, kemarahan, atau provokasi bekerja dengan cara yang sama. Ia menciptakan ketegangan kolektif dan memaksa sistem merespon, sering kali dengan cara yang merugikan semua pihak.

Kemarahan yang dipertontonkan di ruang publik, apalagi oleh tokoh berpengaruh, bukanlah hal sepele. Ia bisa menjadi legitimasi sosial bagi tindakan ekstrem.

Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan

Ketika publik terus-menerus disuguhi narasi amarah, batas antara kritik yang sehat dan kebencian menjadi kabur. Dari sinilah konflik horizontal bisa tumbuh, diperparah oleh informasi yang tidak utuh dan sentimen kelompok.

Namun, penting untuk tidak terjebak pada asumsi bahwa semua ini adalah skenario terstruktur untuk mendiskreditkan pihak tertentu. Bisa jadi ada kepentingan politik di baliknya, tetapi bisa juga ini murni akibat lemahnya penegakan hukum dan budaya kekerasan yang dibiarkan tumbuh.

Yang jelas, tanpa respons yang tegas dan transparan, ruang spekulasi akan semakin luas dan memperparah ketidakpercayaan publik.

Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan

Negara tidak boleh kalah oleh rasa takut. Penegakan hukum harus berdiri tegak tanpa pandang bulu, termasuk jika melibatkan oknum aparat.

Tidak cukup hanya menangkap pelaku. Yang lebih penting adalah memastikan keadilan ditegakkan secara terbuka agar publik melihat bahwa hukum masih menjadi panglima.

Selain itu, para elit politik dan tokoh masyarakat perlu menyadari tanggung jawab moral mereka dalam menjaga ketenangan publik. Kritik tentu diperlukan dalam demokrasi, tetapi harus disampaikan dengan bahasa yang membangun, bukan memprovokasi.

Baca Juga : Jangan Tunggu Anak Siap, Sistemnya yang Harus Siap

Mengobarkan kemarahan mungkin terasa efektif dalam jangka pendek, tetapi dampaknya bisa merusak persatuan dalam jangka panjang.

Jika situasi ini dibiarkan, yang runtuh bukan hanya rasa aman, tetapi juga legitimasi sistem itu sendiri. Ujian terberat terletak pada siapa yang mampu menjaga kewarasan dan tanggung jawab dalam setiap kata dan tindakan di ruang publik. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda