HARIAN.NEWS, LUTRA — Malam takbiran di desa Pandak, Masamba, tak sekadar diisi gema takbir yang berlarian di langit-langit kampung.
Ia tumbuh menjadi denyut yang lain—lebih riuh, lebih berani—melalui ledakan suara baraccung yang mengoyak sunyi, sekaligus merajut kebersamaan yang tak kasatmata.
Di antara cahaya obor dan kilau kembang api, sekitar 50 baraccung hadir sebagai penanda bahwa Ramadan benar-benar sampai di ujungnya.
Baca Juga : Kompak! Forkopimda Jeneponto Pantau Malam Takbiran Bareng Kapolri
Bukan sekadar bunyi, ia adalah bahasa. Bahasa yang diwariskan, dirawat, dan dihidupkan oleh tangan-tangan masyarakat desa Pandak.
Sejak 1985, tradisi ini tak pernah benar-benar padam. Ia hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Pandak—sebuah desa yang percaya bahwa kebersamaan bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dinyalakan.
Baraccung menjadi simbol dari itu semua: ledakan yang tidak merusak, melainkan mengikat.
Baca Juga : Guru yang Dikorbankan, Legislator Perempuan dari Gowa yang Menyelamatkan
Di balik dentumannya, tersimpan filosofi hidup masyarakat Luwu Utara: Sekong Sirendeng Sipomandi—sebuah keyakinan bahwa manusia tumbuh karena saling menopang.
Nilai ini tak hanya diucapkan, tetapi dipraktikkan dalam riuhnya malam takbiran. Anak muda, orang tua, bahkan warga dari desa tetangga, melebur dalam satu ruang yang sama: ruang perayaan, ruang persatuan.
“Sejatinya kegiatan ini terjadi sekali setahun dan itu hanya ada di malam takbiran Idul Fitri,” ujar Aryo, salah satu pemuda yang terlibat langsung dalam perayaan itu. Kalimatnya sederhana, tetapi menyimpan makna tentang betapa sakralnya momen tersebut bagi mereka.
Baca Juga : Masyarakat Adat Rampi Lutra Tolak Tambang Emas Kalla Arebamma
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
