Logo Harian.news

Ledakan yang Merawat Ingatan: Baraccung di Malam Takbiran Desa Pandak

Editor : Andi Awal Tjoheng Sabtu, 21 Maret 2026 19:45
Ledakan yang Merawat Ingatan: Baraccung di Malam Takbiran Desa Pandak ||ist
Ledakan yang Merawat Ingatan: Baraccung di Malam Takbiran Desa Pandak ||ist

Baraccung kini bukan lagi sesuatu yang asing, apalagi tabu. Ia menjelma menjadi seremoni lintas generasi. Dari tangan yang muda hingga yang renta, semua mengambil bagian dalam menjaga nyala tradisi ini tetap hidup.

Ketua Umum Karang Taruna Matappa, Iful, menyebut bahwa malam itu tak hanya milik warga Pandak.

“Kegiatan ini tidak hanya dimeriahkan oleh masyarakat Pandak, tetapi juga masyarakat desa tetangga. Bahkan ada yang harus menempuh jarak yang jauh demi mengikuti dan menyaksikan tradisi Baraccung di desa Pandak,” tuturnya.

Baca Juga : Kompak! Forkopimda Jeneponto Pantau Malam Takbiran Bareng Kapolri

Di antara tahun-tahun sebelumnya—malam itu, Pandak seolah berubah menjadi lautan manusia. Dentuman baraccung tak lagi sekadar suara, melainkan gema yang mengundang, memanggil, dan menyatukan.

Masyarakat Pandak membuktikan bahwa tradisi, jika dirawat dengan kesadaran, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan.

Baraccung adalah api yang menyala di antara manusia—bukan untuk membakar, tetapi untuk menerangi hubungan yang mungkin mulai redup. Adalah pengingat bahwa dalam setiap ledakan, ada harapan untuk tetap bersama.

Baca Juga : Guru yang Dikorbankan, Legislator Perempuan dari Gowa yang Menyelamatkan

Baraccung bukan hanya tentang bunyi, nyala, dan teriakan. Tapi, ini soal kerja sama, kerja keras kemudian bahagia. Juga tentang menyambung tradisi yang sejak lama dilaksanakan para pendahulu.

“Kita berharap bahwa tradisi Baraccung ini tidak hanya sampai di Ramadan kali ini, tetapi ia terus terawat sesuai dengan zamannya dan siapa di dalamnya,” tutup Aryo.

Dan malam itu, di bawah langit takbiran, baraccung kembali meledak—bukan hanya di udara, tetapi juga di dalam dada setiap orang yang percaya bahwa kebersamaan adalah tradisi paling abadi.***

Baca Juga : Masyarakat Adat Rampi Lutra Tolak Tambang Emas Kalla Arebamma

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : SAKKIR (KOMUNITAS RUMAH BUKU)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda