Namun pada 1889, Konferensi Sosialis Internasional di Paris memutuskan hal berbeda. Tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional untuk menghormati para martir Haymarket.
Festival kesuburan bertransformasi menjadi simbol perlawanan kelas pekerja.
Baca Juga : Dulu Dilarang Orba, Begini Sejarah Hari Buruh Jadi Libur Nasional
Jangan Keliru: May Day vs Mayday
Perlu dicatat: ” May Day ” (dua kata) untuk Hari Buruh berbeda dengan ” Mayday ” (satu kata) dalam dunia penerbangan.
Kode darurat Mayday berasal dari bahasa Prancis m’aider yang berarti “tolong saya”. Istilah ini tidak memiliki hubungan historis dengan perjuangan buruh.
Baca Juga : Sederet Janji Prabowo di Hari Buruh: Hapus Outsourcing hingga Bentuk Satgas PHK
Indonesia: Dari Bawah Tanah ke Istana
Di Indonesia, perayaan May Day mengalami perjalanan berliku.
Era Orde Baru menjadi masa kelam bagi gerakan buruh. Peringatan 1 Mei dilarang keras. Rezim Soeharto menganggapnya terlalu identik dengan ideologi kiri dan komunisme.
Baca Juga : May Day 2025, Disnakertrans Sulsel Umumkan Pembentukan Desk Ketenagakerjaan
Buruh harus merayakan secara sembunyi-sembunyi. Risiko penjara dan penculikan menghantui setiap aktivis yang nekat turun ke jalan.
Reformasi 1998 membawa angin perubahan. Semangat May Day kembali membara. Demonstrasi buruh menjadi pemandangan umum setiap 1 Mei.
Puncaknya, pada 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional. Keputusan bersejarah ini menjadi pengakuan resmi negara terhadap peran vital buruh dalam pembangunan bangsa.
Baca Juga : Ketua DPRD Makassar Supratman: “Semua Pekerja Layak Dihargai”
Refleksi: Harga Mahal Sebuah Kemajuan
Kini, delapan jam kerja sehari adalah standar global. Weekend adalah hak yang wajar. Cuti berbayar dijamin undang-undang.
Namun kita sering lupa: semua ini tidak datang gratis. Ia dibayar dengan darah para martir Haymarket. Dengan keberanian mereka yang menghadapi todongan senapan demi tuntutan yang kini terdengar sederhana.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

