HARIAN.NEWS – Untuk meraih hati rakyat, pemimpin harus memberi tauladan dan jangan menabrak, niscaya akan ditinggalkan.
Pada pilkada serentak 2024, hasil Quick Count sementara menunjukkan partai dengan jumlah suara terbesar (PDIP) pada pemilu yang lalu mengalami hal yang sudah di prediksi.
Baca Juga : Moralitas Harus Berjalan Seiring dengan Tata Kelola yang Baik
Jateng, Jabar, Jatim, Sumut, Sulsel, dan di beberapa daerah jagoannya kalah. DKI masih proses, dua putaran atau satu putaran.
Bagi masyarakat Indonesia banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dalam berpolitik. Segala hal dilakukan, termasuk tidak legowo dalam menerima hasil pilpres, cenderung marah, dan pendendam.
Tokoh politik ini berlomba mempertontonkan mereka maruk akan kekuasaan. Setiap event kenegaraan 17 Agustus selalu tidak hadir, hanya karena tidak mau bertegur sapa dengan SBY dan presiden selanjutnya. Tidak memberi tauladan, tidak rendah hati, cenderung menunjukkan arogansi.
Baca Juga : Tidak Apa-apa Kalah, yang Penting Ingat Pulang
Sebagai negara demokrasi berazaskan pancasila wajib memegang teguh azas persatuan. Orang berseteru hal biasa, apalagi berdebat untuk mufakat. Sebagai oposisi diluar pemerintahanpun lumrah, namun persoalan menjaga kesatuan harus menjadi prioritas bersama.
Bagaimana rakyat akan berempati jika pemimpin mudah terbawa perasaan dan tidak peduli dengan apa harapan rakyat yang ingin hidup rukun, damai dan sejahtera.
Banyak orang beranggapan politik itu kotor, menjijikkan, dan kejam. Menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan serta tak mengenal aturan.
Baca Juga : Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi
Namun pada hakekatnya politik itu suci dan mulia, untuk mencapai kebaikan bersama. Mempunyai nilai moral yang lebih tinggi daripada mempertahankan kedudukan. Dalam sepenggal puisi Candra Malik, politik itu suci. Politik adalah tatacara bersuci yang basah dan manusiawi.
Jika tiba-tiba kami melawan itu karena perut kami lapar. Doa kami selalu menyertai tiap langkah tuan, puan ahli yang lebih tau dari kami soal cara menjual janji-janji. Semoga pahit hidup ini kami teguk cukup dari kopi.
IGA K
Baca Juga : Tenaga KDMP dan KNMP untuk Mencetak Kader Pembangunan Bukan Korban Kelalaian
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
