Logo Harian.news

Memberi Contoh Jangan Menabrak Tauladan

Editor : Redaksi Jumat, 29 November 2024 08:38
Pemred Harian.News, Iga Kumarimurti Diwia. Foto: dok
Pemred Harian.News, Iga Kumarimurti Diwia. Foto: dok
APERSI

HARIAN.NEWS – Untuk meraih hati rakyat, pemimpin harus memberi tauladan dan jangan menabrak, niscaya akan ditinggalkan.

Pada pilkada serentak 2024, hasil Quick Count sementara menunjukkan partai dengan jumlah suara terbesar (PDIP) pada pemilu yang lalu mengalami hal yang sudah di prediksi.

Baca Juga : Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata

Jateng, Jabar, Jatim, Sumut, Sulsel, dan di beberapa daerah jagoannya kalah. DKI masih proses, dua putaran atau satu putaran.

Bagi masyarakat Indonesia banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik dalam berpolitik. Segala hal dilakukan, termasuk tidak legowo dalam menerima hasil pilpres, cenderung marah, dan pendendam.

Tokoh politik ini berlomba mempertontonkan mereka maruk akan kekuasaan. Setiap event kenegaraan 17 Agustus selalu tidak hadir, hanya karena tidak mau bertegur sapa dengan SBY dan presiden selanjutnya. Tidak memberi tauladan, tidak rendah hati, cenderung menunjukkan arogansi.

Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan

Sebagai negara demokrasi berazaskan pancasila wajib memegang teguh azas persatuan. Orang berseteru hal biasa, apalagi berdebat untuk mufakat. Sebagai oposisi diluar pemerintahanpun lumrah, namun persoalan menjaga kesatuan harus menjadi prioritas bersama.

Bagaimana rakyat akan berempati jika pemimpin mudah terbawa perasaan dan tidak peduli dengan apa harapan rakyat yang ingin hidup rukun, damai dan sejahtera.

Banyak orang beranggapan politik itu kotor, menjijikkan, dan kejam. Menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan kekuasaan atau melanggengkan kekuasaan serta tak mengenal aturan.

Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan

Namun pada hakekatnya politik itu suci dan mulia, untuk mencapai kebaikan bersama. Mempunyai nilai moral yang lebih tinggi daripada mempertahankan kedudukan. Dalam sepenggal puisi Candra Malik, politik itu suci. Politik adalah tatacara bersuci yang basah dan manusiawi.

Jika tiba-tiba kami melawan itu karena perut kami lapar. Doa kami selalu menyertai tiap langkah tuan, puan ahli yang lebih tau dari kami soal cara menjual janji-janji. Semoga pahit hidup ini kami teguk cukup dari kopi.

IGA K

Baca Juga : Jangan Tunggu Anak Siap, Sistemnya yang Harus Siap

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda