HARIAN.NEWS, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melontarkan gagasan besar yang mencerminkan mimpinya untuk merevolusi dunia pendidikan di kota Makassar.
Ia berambisi menjadikan Makassar sebagai rumah bagi sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) terbaik di Indonesia.
“Saya bilang ke tim, suatu hari orang akan bertanya, di mana SD dan SMP terbaik di Indonesia? Jawabannya di Makassar,” tegas Munafri, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga : Safari Ramadan Ditutup di Barrang Lompo, Munafri Siapkan “Pete-pete Pulau” Gratis dan Target Listrik 24 Jam
Ia bahkan berencana menggelar sayembara arsitektur demi menciptakan gedung sekolah yang tidak hanya indah secara fisik, tapi juga memuliakan semangat belajar dan inklusivitas.
Munafri ingin sekolah-sekolah negeri di Makassar menjadi simbol kesetaraan, tempat anak-anak dari berbagai latar belakang baik dari keluarga mampu maupun tidak, duduk bersama dan belajar dalam suasana yang adil dan ramah.
“Tidak boleh ada diskriminasi. Semua anak Makassar berhak atas pendidikan terbaik,” ujarnya.
Baca Juga : Apresiasi Garda Terdepan Kota, Munafri Serahkan Paket Lebaran untuk Satgas Kebersihan
Tak hanya itu, ia juga menantang sekolah-sekolah swasta elit untuk turut serta dalam misi sosial ini. Ia mendorong agar setiap sekolah swasta menyediakan kuota bagi siswa dari keluarga tidak mampu dengan gratis.
“Apakah mungkin anak tukang becak bisa sekolah di Athirah? Tidak. Tapi kita akan ubah itu. Minimal lima atau enam anak tidak mampu harus bisa merasakan sekolah mahal secara gratis,” ujarnya.
Tak berhenti di sana, Munafri juga menegaskan pentingnya pembenahan kurikulum. Ia ingin pendidikan di Makassar tidak hanya fokus pada kecerdasan akademik, tetapi juga mengakar kuat pada nilai-nilai moral, akhlak, dan sopan santun.
Baca Juga : Safari Ramadan di Rappocini, Wali Kota Munafri Ajak Warga Perkuat Sinergi Bangun Makassar
“Kita ingin anak-anak tahu bagaimana bersikap, bagaimana menghormati orang tua, bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua. Ini pendidikan karakter yang harus dibangun sejak dini,” jelasnya.
Ia bahkan mengusulkan agar pendidikan lalu lintas dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Menurutnya, pelanggaran kecil seperti menerobos lampu merah bisa menjadi awal dari budaya permisif yang lebih besar, termasuk korupsi.
“Kalau pelanggaran kecil kita biarkan, nanti jadi besar. Pendidikan harus membentuk karakter yang taat aturan sejak dini,” tegasnya.
Baca Juga : Safari Ramadhan di Manggala, Wali Kota Makassar Optimis Banjir Teratasi Secara Perlahan
PENULIS: NURSINTA
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
