Namun keterbatasan jumlah penduduk ternyata tidak menjadi penghalang membangun identitas sepak bola yang kompetitif.
Cabo Verde—yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Cape Verde—merupakan negara kepulauan di Samudra Atlantik, berada di lepas pantai barat Afrika dekat Guinea-Bissau.
Baca Juga : Kanada ke 16 Besar Piala Dunia 2026 Usai Tekuk Afrika Selatan
Secara sejarah, wilayah ini tidak memiliki penduduk tetap sebelum kedatangan penjelajah Portugis pada abad ke-15. Permukiman permanen mulai berkembang sekitar tahun 1462 dan wilayah tersebut kemudian menjadi bagian penting jalur pelayaran kolonial Portugal.
Berabad-abad lamanya, Tanjung Verde berkembang sebagai titik persinggahan dan pusat perdagangan lintas Atlantik. Letaknya yang strategis membuat wilayah ini pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan budak transatlantik yang membentuk identitas sosial dan budaya masyarakat hingga saat ini.
Negara itu akhirnya memperoleh kemerdekaan dari Portugal pada 1975 dan berkembang menjadi salah satu demokrasi multipartai yang relatif stabil di Afrika. Pada 2013, negara tersebut secara resmi menggunakan nama Cabo Verde dalam forum internasional.
Baca Juga : Ronaldo Ungguli Messi, Ini 10 Pemain Terkaya di Piala Dunia 2026
Kini, sejarah baru kembali ditulis—bukan lewat politik atau ekonomi—tetapi lewat sepak bola.
Perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 belum selesai. Tantangan berikutnya jauh lebih berat karena Cabo Verde dijadwalkan menghadapi juara bertahan Argentina di babak 32 besar.
Pertandingan ini menjadi ujian terbesar sekaligus kesempatan emas bagi negara kecil tersebut untuk memperpanjang dongeng mereka di panggung dunia.
Baca Juga : Duh! Wakil Asia di Piala Dunia 2026 Sisa 2, Jepang dan Australia
Terlepas dari hasil akhir nanti, Cabo Verde sudah mengirim pesan kuat kepada dunia: ukuran negara bukan penentu mimpi. Di Piala Dunia, cerita terbesar kadang lahir dari tempat yang paling kecil.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
