HARIAN.NEWS, JAKARTA – Pengangkatan pemengaruh Deddy Corbuzier sebagai staf khusus menteri pertahanan dipandang publik tidak urgen di tengah situasi efisiensi anggaran.
Mempertontonkan pada para pengangguran baru yang di rumahkan rasa ketidakadilan, sangat menyakitkan.
Baca Juga : Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata
Di media, Wamen Kementerian Pertahanan juga mengatakan sedang mengetatkan anggaran untuk kesejahteraan prajurit.
Tetapi dia pula yang dengan ringan mengatakan, di kritik seperti itu sudah biasa ungkapnya.
Berisik tentang penghematan tak ubahnya hanya omon-omon, ratusan stafsus dan staf ahli telah dilantik hampir di 12 kementerian.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Daripada percaya pernyataan “banyak orang percaya dan puas dengan kinerja pejabat penguasa”, saya lebih percaya bahwa jauh lebih banyak lagi orang tidak percaya apapun yang keluar dari bibir dan dilakukan sebagian besar pejabat, ungkap penulis Bre Redana.
Ada hubungan timbal balik antara nalar dan bahasa.
Nalar yang kacau taruhlah pada pejabat, akan menghasilkan bahasa yang kacau.
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

