Begitu juga sebaliknya bahasa yang kacau akan menghasilkan nalar kacau pula. Daya rusaknya dahsyat. Semestinya bahasa penguasa membuat, menjadikan kenyataan terang benderang bukan menutupinya.
Kedepan situasi ini jika tidak disadari akan menyebabkan keadaan semakin tidak baik-baik saja.
Baca Juga : Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata
Regenerasi kepemimpinan tambah menghasilkan sosok tidak bermutu.
Begitupun pers, bersusahpayahlah mendefinisikan keadaan.
Cukup bisa diterima nalar sehat dan mewakili keresahan publik.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMIMPIN REDAKSI HARIAN.NEWS)

