Logo Harian.news

Perjalanan Aras Prabowo, Putra Petani yang Tak Menyerah hingga Raih Doktor

Editor : Redaksi Sabtu, 23 Mei 2026 14:16
Aras Prabowo (tengah) bersama keluarga. (Dok. Pribadi)
Aras Prabowo (tengah) bersama keluarga. (Dok. Pribadi)

HARIAN.NEWS, SERANG – Kisah inspiratif datang dari Desa Parippung, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dari keluarga petani sederhana yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, pasangan Renreng dan Saripa kini menorehkan kebanggaan besar setelah putra sulung mereka, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., resmi meraih gelar Doktor Ilmu Akuntansi pada Wisuda Gelombang II Tahun 2026 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Sabtu (23/5/2026), di Auditorium Kampus Sindangsari Untirta.

Perjalanan pendidikan Aras Prabowo menjadi simbol bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mencapai pendidikan tertinggi. Putra sulung dari dua bersaudara itu menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Muslim Indonesia, melanjutkan S2 Magister Akuntansi di Universitas Mercu Buana, hingga menyelesaikan Program Doktor Ilmu Akuntansi di Untirta.

Saat ini, Aras dipercaya sebagai Kaprodi Akuntansi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Sementara adiknya, Muhammad Asdar Prabowo, tengah menempuh Magister Pertahanan Semesta di Universitas Pertahanan dengan beasiswa penuh.

Baca Juga : Bareng Kajati Sulsel, Andi Amar Ma’ruf Hadiri Prosesi Mattompang Arajang Hari Jadi Bone

Di balik keberhasilan akademiknya, Aras juga dikenal sebagai sosok keluarga yang hangat. Ia didampingi sang isteri, Sutanti Idris, S.E., CMC., serta dua anak mereka, Khayra Nur Adila Ardani dan Kanezka Adzril Pabeangi, yang menjadi sumber semangat dalam perjalanan panjang pendidikan doktoralnya.

Sang ayah, Renreng, mengenang masa-masa sulit ketika harus membiayai pendidikan anak-anaknya dari hasil bertani. Namun keterbatasan ekonomi tidak pernah memadamkan harapan mereka terhadap pendidikan.

“Kami hanya petani kecil. Kadang hasil panen tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi saya selalu bilang kepada anak-anak, jangan pernah berhenti sekolah. Pendidikan adalah jalan mengubah nasib keluarga,” ujar Renreng dengan suara bergetar.

Baca Juga : Bone Harus Mendunia: Energi yang Menyala dari Bone

Ibunda Aras, Saripa, juga mengaku bangga dan terharu melihat anaknya berhasil meraih gelar doktor.

“Kami ini orang kampung, tidak pernah membayangkan anak kami bisa sampai doktor. Saya hanya selalu berdoa supaya anak-anak menjadi orang baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Saripa.

Perjuangan Aras menyelesaikan studi doktoral juga tidak lepas dari dukungan penuh sang isteri. Sutanti Idris mengatakan bahwa perjalanan pendidikan doktor bukan hal mudah karena harus dijalani di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan aktivitas akademik.

Baca Juga : Disaksikan Menpan RB, 44 Kepala Daerah, Taruna Ikrar Resmikan 7 Loka POM di Bone

“Saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau berjuang menyelesaikan disertasinya. Banyak malam yang dihabiskan untuk membaca dan menulis. Kami percaya perjuangan ini bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk memberi inspirasi kepada anak-anak muda dari desa bahwa mereka juga bisa meraih pendidikan tinggi,” ujar Sutanti Idris.

Usai wisuda, Dr. Muhammad Aras Prabowo menegaskan bahwa gelar doktor yang diraihnya merupakan persembahan bagi kedua orang tua, isteri, anak-anak saya, keluarga, dan masyarakat kecil yang selama ini berjuang dalam keterbatasan.

“Saya lahir dari keluarga petani miskin di Bone. Saya tahu bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan. Gelar doktor ini saya persembahkan untuk Bapak Renreng dan Ibu Saripa serta isteri dan anak-anak saya yang mengajarkan arti kerja keras, kejujuran, dan keteguhan hidup,” kata Aras.

Baca Juga : Mentan Amran: Hilirisasi Ayam Terintegrasi di Bone Untungkan Peternak, Ekonomi Daerah Tumbuh

Ia menambahkan bahwa pendidikan harus menjadi alat transformasi sosial yang membuka harapan baru bagi masyarakat desa.

“Anak petani juga bisa menjadi doktor. Anak kampung tidak boleh minder. Selama ada kemauan, doa orang tua, dukungan isteri anak dan kerja keras, masa depan bisa diubah melalui pendidikan,” lanjutnya.

Disertasi Aras mengenai akuntabilitas “teseng” dalam budaya Bugis sebelumnya turut mendapat perhatian publik karena dinilai menghadirkan perspektif lokal dalam pengembangan ilmu akuntansi modern. Kisah hidupnya kini menjadi inspirasi bahwa dari sawah sederhana di Bone, lahir seorang doktor yang membawa harapan besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Sidang promosi doktor Aras juga menjadi perhatian nasional karena menghadirkan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, sebagai penguji eksternal. Dalam sidang terbuka tersebut, Menteri Agama memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan akuntansi budaya yang dikembangkan Aras Prabowo.

“Temuan ini tidak hanya memperkaya akuntansi, tetapi juga menjadi refleksi spiritualitas dan tanggung jawab sosial dalam tata kelola publik. Teseng bisa menjadi jembatan antara disiplin ekonomi, akuntansi, dan sosiologi,” ujar Nasaruddin Umar dalam sidang promosi doktor tersebut.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda