PAN mendayung di antara dua kutub, kutub pragmatisme dan kutub idealism. Dalam posisi demikian pertanyaan yang acapkali muncul adalah, apakah PAN telah mengkhianati idealismenya?
Atau justru, PAN tengah mencari keseimbangan antara prinsip dan realitas?
Baca Juga : Gantikan Eko Patrio, Uya Kuya Resmi Jabat Ketua PAN DKI
Dalam politik, idealisme murni tanpa fleksibilitas kerap membuat partai terpinggirkan, sementara pragmatisme tanpa batas dapat menggerus identitas.
Bagi PAN, menjaga keseimbangan ini menjadi tantangan besar. Basis pemilih, khususnya yang masih mengingat semangat awal reformasi, mengharapkan PAN tetap teguh pada nilai-nilainya.
Di sisi lain, generasi pemilih baru menuntut efektivitas politik yang kadang membutuhkan kompromi.
Baca Juga : Bupati Gowa Husniah Talenrang Naik Kelas ke DPP PAN, Ini Jabatannya
Terakhir, perjalanan PAN menunjukkan bahwa politik adalah arena penuh dinamika antara idealisme dan pragmatisme. Tantangannya bukan sekadar bertahan, tetapi juga mempertahankan identitas dalam perubahan zaman.
Muswil PAN Sulsel kali ini perlu melakukan refleksi mendalam: memperbarui komitmennya pada nilai dasar reformasi, sambil tetap lincah membaca realitas politik.
Sebuah partai besar bukan hanya mampu memenangkan kekuasaan, tetapi juga menjaga jiwa dari mana ia dilahirkan.
Baca Juga : PAN Sulsel Dukung Zulhas Maju Pilpres 2029
Wallau ‘a’lam bjshshawab. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
