Suka tidak suka, fakta di lapangan masih terjadi penebangan liar, longsor, alih fungsi lahan dan lalu lintas juga terganggu.
Selanjutnya bagaimana menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestarian alam di sana.
Seperti apa cara mengelola dan melestarikan sumber daya, termasuk air, tanah, dan hutan.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Kemudian bagaimana melindungi dan melestarikan kawasan, dengan tidak membangun terlalu banyak bangunan permanen karena dapat memicu kerusakan alam meluas.
Dilanjutkan, cara mengelola sampah plastik dengan baik melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang.
Yang terpenting meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pelestarian kawasan hutan lindung.
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Dengan menjaga hal-hal tersebut, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat, lestari, dan seimbang untuk kebaikan orang banyak dan para komunitas pencinta alam. Sebagai jawaban atas kritik yang selama ini menghantui.
Eksistensi kemanusiaan ataupun aktivitas kepedulian terhadap keselamatan lingkungan tidak melulu dilakukan di wilayah seputar Sulsel atau Makassar saja. Akan lebih menggema bila sepak terjang kita diakui diseluruh Indonesia bahkan luar negeri.
Heroisme teranyar seorang Agam dan viral pada akhir Juni 2025 lalu perilakunya sangat mengesankan, bagaimana tidak, dedikasi yang ia tunjukkan sebagai orang Makassar mengagumkan meskipun berprofesi jadi tukang angkut perlengkapan pendaki (porter) sekaligus jadi guide di Gunung Rinjani Lombok.
Baca Juga : Jangan Tunggu Anak Siap, Sistemnya yang Harus Siap
Alumnus Antropologi Universitas Hasanuddin ini muncul sebagai pahlawan. Dunia terbelalak dengan rekam jejaknya. Rasa kemanusiaan yang dominan begitu merasuk dalam setiap langkahnya.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

