HARIAN.NEWS,MAKASSAR — Menaruh harapan sebesar mungkin di tengah keraguan, di tengah gejolak politik dan ketidakpastian, terinspirasi dari pesan pendahulu bahwa kerja sama dan berkelanjutan nampaknya dapat menjadi alternatif solusi.
Itulah ciri khas peninggalan yang bijak dari para tetua masyarakat Sulsel sebagai bentuk kepedulian terhadap kelangsungan hidup yang harmonis antara sesama manusia dan alam. Adaptasi terus dibangun melalui komitmen untuk menunjukkan integritas.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Itu semua akan menjawab tantangan, pemuda di posisi terdepan memimpin kelompoknya sebagai agen perubahan.
Dengan meyakinkan diri, berpegang pada kearifan lokal yang menyatu dengan jiwa raga dalam filosofi “ riolo riolo sibawa sibawa”.
Maknanya, yang muda yang tua dalam kelompok masyarakat saling melengkapi. Suatu pesan atau tindakan berlaku untuk semua orang tanpa memandang usia.
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Sepatutnya apa yang menjadi milik kita bersama demi kelangsungan hidup orang banyak, wajib pula dijaga dan tentunya tidak melibatkan hanya satu pihak untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab serta berpartisipasi menyelamatkan lingkungan.
Semangat tersebut terbawa dalam diri, ada dalam kegembiraan dan kemanusiaan yang sama.
Ada satu aset daerah milik Provinsi Sulawesi Selatan yang harus dijaga, yaitu keindahan alam di wilayah pariwisata Malino agar tetap memesona.
Baca Juga : Jangan Tunggu Anak Siap, Sistemnya yang Harus Siap
Sehingga kolaborasi terus ditingkatkan sebagai upaya untuk penyelamatan ekosistem yang memadai dari berbagai ancaman yang diakibatkan faktor kesalahan maupun kesengajaan manusia agar tidak meluas di masa yang akan datang.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

