HARIAN.NEWS – Pemerintah Indonesia saat ini memasuki kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang sejak awal menjanjikan ketegasan dan keberanian dalam bertindak.
Ketegasan Prabowo Subianto tersebut saat ini menunjukkan warnanya, bukan halnya terkait kebijakan namun juga dalam pilihan diksi yang diucapkannya di hadapan publik.
Baca Juga : Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri 1447 H, Mohon Maaf Lahir Batin
Prabowo Subianto beberapa kali mengucapkan kata “ndasmu” di hadapan banyak publik saat ia berpidato, menyinggung ketidaksetujuannya terkait kritik yang ia terimanya.
Kata “ndasmu” bagi masyarakat Jawa khususnya Mataraman, merupakan ungkapan yang cukup kasar, jauh dari sekedar “kepalamu” dalam bahasa Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan, orang nomor satu di Indonesia saat ini tersebut beberapa kali memakai kosakata tersebut, sebuah nada sangat ‘tegas’ yang menyasar kondisi isi kepala seseorang.
Baca Juga : Presiden Prabowo Pastikan Ketahanan Pangan RI Kuat di Tengah Krisis Dunia
Kata Ndasmu kerap dilontarkan oleh sosok Presiden Prabowo, menjadi sorotan banyak pihak, khususnya para pengamat komunikasi.
Pemerhati kebangsaan yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al Qur’an, Ahmadie Thaha. Mengatakan bahwa seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kebijakan yang dibuatnya, tapi juga cara ia berkomunikasi.
Menurutnya, kata-kata yang diucapkan mencerminkan karakter, dan dalam politik, kata-kata adalah senjata.
Baca Juga : Saat Prabowo Siap ke Teheran Fasilitasi Dialog
Ia melihat bagaimana beberapa pemimpin besar menggunakan kata-kata sebagai alat perubahan. Seperti halnya Habibie yang kerap berbicara dengan ketajaman intelektual, Soekarno yang berpidato lantang dengan gayanya yang membakar semangat, atau Gus Dur yang merangkul lawan politik dengan humor tanpa umpatan.
Ahmadie melihat, Prabowo Subianto dengan latar belakang militernya tampak memilih ‘pendekatan’ lain.
Baca Juga : Impor Mobil Pickup dari India Dibanjiri Kritik
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

