Kreativitas dan ketahanan petani tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk mengurangi tanggung jawabnya. Justru sebaliknya, inisiatif-inisiatif lokal tersebut perlu diperkuat dan didukung agar dapat berkembang lebih luas dan berkelanjutan. Tanpa dukungan sistemik, upaya mandiri petani akan selalu berada dalam batas yang sempit.
Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial. Kementerian Pertanian semestinya tidak berhenti pada klaim keberhasilan, tetapi bergerak lebih jauh dengan intervensi nyata.
Baca Juga : Husniah vs Panggung Politik: Ketika Seorang Bupati Perempuan Memilih Melawan, Bukan Tunduk
Pembangunan dan rehabilitasi sistem irigasi di daerah kering harus dipercepat. Program asuransi pertanian perlu diperluas agar petani tidak sepenuhnya menanggung kerugian saat gagal panen. Selain itu, distribusi teknologi pertanian yang adaptif terhadap kekeringan, seperti varietas padi tahan kering, harus lebih merata dan mudah diakses.
Lebih dari itu, pendekatan kebijakan perlu bergeser dari sekadar produksi menuju ketahanan dan keadilan. Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan beras di gudang, tetapi juga dari kemampuan petani untuk terus menanam dan bertahan hidup.
Tanpa itu, swasembada hanya akan menjadi capaian semu yang tidak menyentuh akar persoalan.
Baca Juga : Di Era Digital, Kita Mencari Kebenaran atau Pembenaran?
Kisah petani Batang Jeneponto adalah pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh diukur dari rata-rata semata. Ada suara-suara kecil yang kerap tenggelam dalam statistik besar. Ketika mereka gagal panen, yang hilang bukan hanya hasil pertanian, tetapi juga rasa kepercayaan terhadap hadirnya negara.
Swasembada bukan sekadar ketersediaan pangan, melainkan tentang keadilan bagi mereka yang memproduksinya. Petani telah menunjukkan bahwa mereka mampu beradaptasi dan berinovasi, tetapi mereka tidak bisa berjalan sendiri dalam menghadapi krisis yang semakin kompleks.
Negara harus hadir untuk memperkuat langkah mereka. Jika tidak, maka pertanyaan itu akan terus bergema, swasembada ini, sebenarnya untuk siapa? ***
Baca Juga : Semangat 17 Agustus: Menjaga Kemerdekaan, Melanjutkan Perjuangan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
