Logo Harian.news

Bapakku, Lelaki Hebatku

Editor : Redaksi Kamis, 25 Desember 2025 23:03
Dewi Setiawati, Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Dewi Setiawati, Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar

Oleh: Dewi Setiawati
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar

HARIAN.NEWS – Hari ini aku ingin menarik memoriku jauh ke belakang, ke masa ketika hidup belum sesak oleh target dan tuntutan. Masa ketika beban hidup terasa ringan belum ada cicilan, karier, atau ekspektasi berlebih.

Kalaupun ada, paling hanya urusan belajar dan membantu pekerjaan rumah. Itupun biasanya menjelang Lebaran, saat rumah dibersihkan, dihias, dan disiapkan menyambut tamu. Hidup sederhana, tapi hati terasa lapang.

Baca Juga : KKN UIN Alauddin Gelar Festival Keagamaan di Samaya

Aku ingin bercerita tentang bapak.
Tak banyak yang tahu, kisah cinta bapak dan mamaku bermula bukan di taman bunga yang romantis, melainkan di sebuah bangsal rumah sakit. Sekitar tahun 1970-an, di sebuah rumah sakit di Makassar.

Mamaku saat itu adalah dokter muda (koas) di bagian bedah. Sementara bapak adalah pasien pascaoperasi yang harus menjalani opname selama tiga bulan di bangsal yang sama.

Bapak dua kali menjalani laparatomi, termasuk re-laparatomi dengan pengangkatan ginjal kirinya. Laparatomi adalah pembedahan perut. Dan koas yang merawatnya adalah calon mamaku. 😁

Baca Juga : Taman UIN Alauddin Jadi Kelas Praktik Jurnalistik

Tiga bulan. Cukup lama untuk sembuh. Dan ternyata terasa singkat bagi seorang pemuda yang tengah mabuk cinta. 🄰

Cinta bersemi di bangsal rumah sakit.
Sederhana, apa adanya, dan begitu manis. Bapakku adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, dengan jarak usia yang cukup jauh dari kakak-kakaknya.

Karena itulah, saat orang tuanya telah sepuh, bapaklah yang setia menemani dan merawat mereka. Menggendong, mengurus, dan mendampingi kedua orang tuanya, terutama ketika kakekku terkena stroke.
Dari bapak, aku belajar bahwa merawat orang tua bukanlah beban, melainkan kemuliaan.

Baca Juga : Babak Baru, Berkas Perkara Kasus Uang Palsu UIN Alauddin akan Dialihkan ke PN Gowa

ā€œDan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanyaā€¦ā€ (QS. Al-Ahqaf: 15)

Setelah mama menyelesaikan pendidikan kedokterannya, bapak segera melamar. Mereka menikah, dan Allah menganugerahi empat orang anak: dua laki-laki dan dua perempuan. Aku anak kedua.

Sejak saat itu, ada satu hal yang tak pernah berubah, bapak selalu berdiri di belakang mama. Menopang tanpa banyak suara. Mendampingi dan menyempurnakan. Cinta yang utuh, untuk istrinya dan untuk kami semua.

Baca Juga : Sulsel Siapkan Peta Jalan Ekonomi Hijau dengan Pendanaan Kanada

Bapaklah yang mendorong mama untuk kembali sekolah dan mengambil spesialisasi anak. Demi itu, bapak bekerja tanpa pilih-pilih. Apa pun pekerjaan yang halal, beliau jalani.

Pernah menjadi sopir pete’-pete’ (angkot), membuka usaha mebel, dan pekerjaan lain demi satu tujuan: menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan istrinya.

Kami sering berangkat sekolah menggunakan pete’-pete’ bapak, bersama penumpang lain. Apakah kami malu? Tidak sedikit pun.
Kami bangga.

ā€œItu pete’-pete’ bapakku,ā€ kata kami dengan dada tegak. Dan yang paling kami tunggu adalah saat bapak pulang membawa uang koin dari hasil narik angkotnya.

Di rumah, bapak juga mengambil peran besar. Urusan dapur bukan perkara tabu. Masakan bapak? Sangat lezat. Jujur saja, tak ada restoran yang bisa menandinginya.

Bahkan ketika aku hamil, aku ngidam masakan bapak. Kini aku paham, rasanya bukan hanya dari bumbu, tapi dari cinta dan keikhlasan. Dalam soal pendidikan, bapak sangat disiplin.

Beliau membeli buku-buku pelajaran SD, khususnya matematika. Bapak mempelajarinya sendiri, lalu mengajarkannya kepada kami satu per satu. Tidak ada guru les mungkin karena keterbatasan biaya tetapi semangat bapak jauh melampaui itu.

Ada satu nasihat bapak yang tertanam kuat di jiwaku,
ā€œJadilah manusia yang bermanfaat. Sekolah setinggi-tingginya. Perempuan tidak boleh menggantungkan hidupnya pada laki-laki.ā€

Bapakku keras dan disiplin, tapi hatinya penuh kelembutan.
Membuatku takut—takut mengecewakan, takut dimarahi juga. Hehehe.

Mungkin karena itu pula aku sangat pasrah soal jodoh. šŸ˜…
Selain memiliki bapak yang super protektif, aku juga punya kakak laki-laki yang ā€œkejamnyaā€ serupa. 😁
Saking pasrahnya, aku pernah berkata kepada bapak, ā€œPa, kalau usiaku sudah waktunya menikah dan aku belum punya calon suami… jodohin saja aku sama anaknya teman ta.ā€

Waktu berlalu. Aku pun menjadi dokter muda (koas).

Saat itulah seorang residen calon dokter spesialis datang melamarku. Tanpa pacaran. Tanpa basa-basi. Langsung menyampaikan niat menikah. Aku hanya berpesan,
ā€œLangsung ke orang tuaku saja.ā€
Karena aku yakin, siapa pun pilihan orang tuaku, itulah yang terbaik.
Sikap bapak begitu tenang dan penuh harga diri.

Beliau berkata, ā€œKalau memang jodoh dan Allah ridhai, silakan. Tapi saya tidak menjual putri saya. Tidak ada uang panai’. Kalau mau pesta, kita buat bersama. Saya titipkan anak saya. Tolong dukung pendidikannya dan jaga dia sebagaimana saya menjaganya.ā€

Pria yang melamarku tertegun.
ā€œTidak ada uang panai’, Pak? Bagaimana dengan tanah atau emas?ā€ tanyanya ragu.
Bapakku menjawab singkat dan tegas, ā€œSaya sudah merawat anak saya. Saya tidak menjual anak saya.ā€
Hening.

Saat itu aku terharu. Namun bertahun-tahun kemudian, aku baru menyadari: itulah taktik bapak yang paling jenius. Tidak ada uang panai’.

Tetapi suamikulah yang kemudian mendaftarkanku sekolah S2, S3, hingga pendidikan spesialis.

Ia bukan hanya mendaftarkan, tetapi membiayai dan mendukung penuh seluruh prosesnya yang jika dihitung, nilainya jauh melampaui uang panai’ yang mahal. 😁

Suamiku menjadi mentorku, pelindungku, guruku, dan sahabatku. Penasehat spiritual sekaligus penasehat akademik dalam kehidupan.

Terima kasih, suamiku.
Terima kasih, bapak.
Terima kasih, mama.
Terima kasih, ya Rabbku.

Engkau menitipkanku pada seorang ayah yang mengajarkanku arti ikhtiar, semangat, tawakal, tanggung jawab, dan harga diri melalui pete’-pete’, kedisiplinan, masakan rumah, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus. Kasih sayang yang tiada duanya.

Terkirim doa untuk Bapak tercinta, alm. Muh. Muchsin. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dia, maafkanlah kesalahannya, dan jadikanlah surga tempatnya.

Aamiin ya Rabbal ā€˜alamin.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda