Logo Harian.news

Bona Fide (14): Surat dari Prof. Irawan Yusuf

Editor : Redaksi Rabu, 04 Maret 2026 04:54
Hamdan Juhannis. (Dok. Ist)
Hamdan Juhannis. (Dok. Ist)

Oleh : Hamdan Juhannis

(Rektor UIN Alauddin)

HARIAN.NEWS – Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraqaatuh_ Adinda Prof. Hamdan. Saya menikmati tulisan berseri dari Adinda yang diberi tema “Bona Fide”.

Baca Juga : Bona Fide (12): Positive Illusion

Saya mencoba memberikan perspektif Biologi terhadap perilaku sosial yang menjadi topik bahasan Adinda. Saya mulai dari pertanyaan mengapa ada orang yang selalu berpikir positif, ada yang berpikir negatif.

Ada yang selalu berprilaku baik dan ada yang berprilaku buruk, ada yang terperangkap di masa lalu dan ada yang terobsesi ke masa depan. Ada yang berkarakter koruptor dan ada yang murah hati.

Tentu saja para sahabat yang ahli Ilmu sosial (Sosiolog) seperti Adinda dalam konteks memahami perilaku sosial akibat interaksi antara dua atau lebih individual dalam suatu sistem sosial yang kompleks dalam suatu proses evolusi dan adaptasi yang panjang.

Baca Juga : Bona Fide (11): Antara Fisik dan Visi

Secara biologis, dalam tubuh kita, otak merupakan organ yang mengatur proses perilaku sosial. Bagian otak tersebut dikenal sebagai “social brain”. Bagian otak yang utama adalah otak bagian depan (prefrontal) yang bertumbuh semakin besar (dibandingkan dengan nenek moyang kita ratusan/puluhan ribu tahun lalu).

Ini karena akibat proses evolusi dan adaptasi terhadap lingkungan sosial, fisik dan teknologi yang semakin kompleks.

Daerah ini disebut daerah yang mengatur fungsi luhur. Bagian otak utama yang lain adalah amigdala yang ukurannya semakin kecil dibandingkan nenek moyang kita. Komponen ini mengatur perilaku primitif seperti makan/minum, tidur, hubungan seksual, mempertahankan diri.

Baca Juga : Bona Fide (10): Hibernasi Ide

Disebut perilaku primitif karena sudah ada sejak dahulu kala dan sifat ini ada pada semua mahluk yang mempunyai perilaku sosial, termasuk hewan. Peradaban yang berkembang menyebabkan daerah ini mengecil dan daerah prefrontal semakin besar.

Kedua bagian otak utama yang mengatur perilaku ini dihubungkan oleh serabut jutaan serabut saraf dengan Bagian otak lain untuk memberi respon perilaku sosial yang kompleks seperti memahami pendapat dan perasaan orang lain, empati, rasa kasih sayang, ikatan sosial. Maaf, saya kedatangan tamu.

Hal paling mendasar yang mendorong untuk seseorang melakukan sesuatu adalah niat. Bagian prefrontal otak adalah merupakan pusat niat yang mengatur fungsi kognitif dan emosional.

Baca Juga : Bona Fide (9): Respons dari Teman Sekampung

Pusat itu mengatur segala tindakan yang dilakukan dengan kesadaran dan direncanakan. Kalau tindakan yang dilakukan secara otomatis diatur oleh bagian otak yang lain.

Pusat yang mengatur niat ini berada pada satu lokasi dengan yang mengatur tindakan/perbuatan yang bersifat motorik atau gerakan. Namun, ada jedah waktu antar niat dan tindakan. Disinilah aspek moral, etikal, dan spiritual yang menjadi rem antara niat dan tindakan.

Oleh karena itu, ada resep yang sangat baik untuk meredam niat dan keinginan dengan mengatur jedah waktu untuk eksekusi. Kalau mau mengomentari pendapat orang yang lebih muda, hitung dulu sampai 30. Kalau dengan orang yang se usia, hitung sampai 50.

Kalau dengan orang yang lebih tua/senior atau atasan hitung sampai 100 baru jawab atau beri pendapat. Kalau dengan istri hitung terus tidak usah menjawab atau menyampaikan pendapat. Kalau istri kepada suami, bicara/jawab terus, tidak usah hitung he… he… he…

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda