Logo Harian.news

Bona Fide (20): Titik Hitam

Editor : Redaksi Selasa, 10 Maret 2026 09:35
Rektor UIN Alauddin, Prof. Hamdan Juhannis. || ist
Rektor UIN Alauddin, Prof. Hamdan Juhannis. || ist
APERSI

(Oleh: Hamdan Juhannis)
Rektor UIN Alauddin

HARIAN.NEWS – Konon, ada seorang Professor Filsafat memberikan soal ujian kepada mahasiswanya. Ternyata soal ujian itu adalah kertas putih, yang berisi titik hitam kecil di tengah-tengahnya.

Baca Juga : Bona Fide (29): Mempercayai itu Murah

Professor itu meminta kepada para mahasiswa untuk menjelaskan apa yang dipahami dengan kertas yang dibagikan itu. Professor itu memberi waktu satu jam untuk menjawab satu-satunya pertanyaan dalam ujian itu.

Setelah waktunya habis, Professor itu meminta semua mengumpulkan kertas jawaban dan langsung memeriksa setiap jawaban, sambil meminta mahasiswa tetap berada di dalam ruangan. Setelah Professor memeriksa semua, dia memberi komentar umum tentang jawaban dari para mahasiswanya.

Ada yang menjawab bahwa kertas itu ibarat bumi, dan titik hitam itu adalah pusaran bumi itu sendiri. Ada juga yang menjelaskan bahwa titik hitam itu adalah “center of gravity” dari sebuah daratan yang disimbolkan oleh kertas itu.

Baca Juga : Bona Fide (28): Mengapa Orang Berbohong?

Ada juga yang melihatnya bahwa titik hitam adalah pertengahan dari semua sisi yang ada di dalam kertas itu. Dengan merujuk pada titik hitam itu, menjadi mudah untuk membagi ruang-ruang dalam kertas itu.

Bahkan ada yang mencoba mengaitkan dengan perspektif teologis bahwa titik hitam itu adalah titik dosa, dan sekiranya berwarna merah itu adalah titik keberanian.

Dan sejumlah penjelasan lain tentang keberadaan titik hitam di tengah kertas itu. Professor itu menyimpulkan bahwa semua jawaban mahasiswa terpusat pada keberadaan titik hitam kecil di kertas itu.

Baca Juga : Bona Fide (27): Keraguan seorang Pengkaji

Professor itu lalu mulai berefleksi. Jawaban semua mahasiswa mewakili kebanyakan manusia dalam memandang kehidupan ini. Semua mahasiwa terfokus pada titik hitam. Padahal itu hanya titik kecil yang kebetulan berada di tengah-tengah kertas. Semua bagian lain kertas itu berwarna putih. Namun tidak ada satu-pun yang tetarik untuk menjelaskan warna putih yang mendominasi kertas itu.

Professor itu melanjutkan refleksinya bahwa begitulah kehidupan ini terpandang oleh kebanyakan mata. Mata manusia lebih tertarik melihat hal-hal kecil yang sering tidak penting. Pikiran manusia terdoktrin untuk menguliti “semut di seberang lautan” di banding “gajah di pelupuk mata”.

Banyak yang lebih tertarik untuk menggosipkan hal-hal tidak penting di banding hamparan kehidupan bermakna yang sebenarnya lebih dominan.

Baca Juga : Bona Fide (26): Kelucuan seorang Tokoh

Banyak yang lebih suka membicarakan setitik keburukan orang dibanding sebelanga kebaikannya. Tidak sedikit yang rela untuk berdesak-desakan dan sumpek pada hal receh, dan abai pada hal-hal yang lebih fundamental dalam hidup. Anda kena kan? Saya juga!

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda