Citizen Reporter: Awal Fajar Ramadhan
[Mahasiswa Jurusan Jurnalistik FDK UIN Alauddin Makassar]
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kawasan pesisir Makassar, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai gerbang perekonomian sekaligus titik rawan pencemaran sampah plastik, kini menunjukkan wajah baru.
Timbunan plastik yang dahulu terbawa arus laut dan aktivitas warga, perlahan diolah menjadi produk fungsional dan estetis mulai dari tas, suvenir, hingga perabot rumah tangga berkat inovasi daur ulang berbasis masyarakat.
Perubahan ini tidak lepas dari peran sejumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi aktor kunci ekonomi sirkular di wilayah pesisir.
Salah satu yang menonjol adalah Berdaur Makassar (Berdaur.id), yang secara konsisten mengolah sampah plastik kresek dan botol dari kawasan pesisir, termasuk Desa Nelayan Untia.
Founder Berdaur.id, Yayang Mail, menjelaskan bahwa UMKM daur ulang modern mampu mengolah sekitar 30–50 kilogram sampah plastik per bulan yang berasal dari donatur dan pengikut Berdaur.id.
“Sampah tersebut kami pilah secara ketat, dicuci, lalu dilelehkan khusus plastik jenis tertentu seperti HDPE—untuk dicetak ulang menjadi produk siap jual seperti anting dan tatakan gelas ramah lingkungan,” ujarnya.
Dampak pengelolaan limbah plastik juga dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir. Founder komunitas Marine Buddies, Junaedi Akbar, menilai inovasi ini signifikan dalam mengurangi sampah sekaligus membuka alternatif penghasilan.
“Masyarakat pesisir umumnya bergantung pada aktivitas melaut. Saat cuaca buruk, daur ulang plastik menjadi pilihan untuk menambah pendapatan. Limbah yang diolah bisa menjadi karya bernilai jual,” kata Junaedi.
Upaya ini diperkuat oleh berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk program pembersihan laut seperti Pattasa’ki (Perahu Angkat dan Angkutan Sampah Kita) yang berfokus mengangkat sampah di permukaan perairan.
Inovasi-inovasi tersebut bukan hanya menekan polusi plastik, tetapi juga mendorong lahirnya peluang ekonomi baru bagi warga pesisir.
Ibu Titi, warga pesisir Makassar, mengakui perubahan yang terjadi di lingkungannya.
“Sejak ada program daur ulang dan komunitas yang aktif, lingkungan jadi lebih bersih. Dulu sampah plastik dibakar atau dibuang ke laut. Sekarang kami pilah dan jual ke bank sampah atau diolah UMKM. Tambahan penghasilan ini sangat membantu, terutama bagi ibu rumah tangga,” tuturnya.
Dari sisi akademik, Dr. Drusdi Akrim, M.M., dosen Teknik Lingkungan Universitas Bosowa, menegaskan pentingnya dukungan pemerintah dalam mendorong UMKM inovatif agar dampaknya berkelanjutan.
“Selain pemerintah, peran masyarakat juga krusial mulai dari memilah sampah sejak dari rumah hingga mendukung produk hasil daur ulang,” katanya.
Inovasi pengelolaan sampah plastik di pesisir Makassar menjadi bukti bahwa tanggung jawab kolektif mampu menghadirkan solusi lingkungan sekaligus kesejahteraan ekonomi.
Dari sampah yang dahulu menjadi masalah, kini tumbuh harapan akan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
