HARIAN.NEWS – Tidak dapat dimungkiri, remaja dan anak-anak menjalani kehidupan sehari-hari secara online (daring). Gawai dan perangkat elektronik, tidak lagi menjadi hal mewah, namun telah menjadi gaya hidup.
Pemred harian.news, IGA Kumarimurti Diwia. Foto: dok
Seiring waktu, orang tua khawatir dengan kondisi dan dampak negatif dari dunia digital ini. Bahkan tidak sedikit yang membawa anak ke psikolog atau psikiatri karena pikiran mereka terganggu dan menunjukkan perilaku buruk.
Wali Kota Makassar, Danny Pomanto juga mengatakan, kondisi anak-anak tidak sedang baik-baik saja. Banyak terjadi pergeseran nilai-nilai sosial. Diikuti perkembangan informasi yang tidak diskrining, hal ini diperparah dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang manipulatif. Seperti kita ketahui, AI adalah teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia.
Menjaga dan mendampingi anak adalah kunci dalam pembangunan manusia seutuhnya.
Sebelum terlambat, mari lebih banyak meluangkan waktu bersama anak daripada membiarkan mereka berlama-lama menatap layar gawai. Atau siasati saat menonton bersama dengan melakukan gerakan dalam tontonan. Screen time tidak semua buruk, ada program yang mengedukasi.
Memberikan gawai pada anak sering dilakukan dengan alasan agar mereka tenang. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyarankan untuk anak di bawah 3 tahun tidak melakukan screen time sama sekali dan usia 3 sampai 4 tahun maksimal memiliki waktu satu jam untuk bermain atau menonton tv. Konsistensi orang tua menerapkan aturan sejak dini memungkinkan anak terhindar dari dampak buruk perkembangan teknologi.
Keterusmenerusan memberi penjelasan yang baik dan jujur mengenai aturan penggunaan gawai tentunya akan membuat anak taat dan menurut. Tidak boleh langsung menyerah, keteguhan dan contoh yang baik sangat dibutuhkan. Tidak ada anak-anak yang nakal dan susah diberi tahu. Penjelasan tentu harus diberikan sesuai umur. Dalam sehari sebaiknya anak diberikan kesempatan bermain secara aktif dan mengurangi kegiatan pasif seperti screen time sepanjang waktu.
Sebanyak 33,4 persen anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan ponsel. Dengan rincian usia 1 tahun sebesar 3,5 persen, 1-4 tahun 25,9 persen dan usia pra sekolah 5-6 tahun sebesar 47,7 persen (Badan Pusat Statistik). Umumnya mereka mengakses internet untuk menonton YouTube, permainan daring, dan media sosial.
Sisi positifnya, teknologi ponsel pintar dapat membantu anak terhubung dengan teman dan anggota keluarga yang jauh, namun sekali lagi perlu diperhatikan bahwa gawai dapat pula memberi pengaruh terhadap perkembangan emosi anak jika sepanjang waktu di depan layar. Acuh tak acuh, penyendiri, bahkan obesitas. Tidak jarang terjadi gangguan mental.
Pembatasan waktu screen time pada anak diharapkan dapat membantu mereka menjadi lebih aktif secara fisik dan bersosialisasi. Dengan begitu, orang tua dapat memelihara kesehatan fisik dan mental anak sejak dini.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
