(Refleksi Kesehatan Jiwa dalam Pandangan Ibnu Sina)
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kita sering mengira hidup hanya mengenal dua keadaan “sehat atau sakit”. Padahal ada satu lagi, di antara keduanya ada sebuah ruang yang jarang disadari “ruang sunyi jiwa”.
Baca Juga : RS Ibnu Sina YW UMI Raih Penghargaan Transformasi Digital dari BPJS Kesehatan
Di ruang ini, seseorang tidak tampak sakit, namun juga tidak benar-benar sehat. Tubuhnya berfungsi normal, aktivitas berjalan seperti biasa, tetapi di dalam batin ada kelelahan yang tak bersuara.
Tidak ada luka yang terlihat, tidak ada keluhan yang jelas, namun rasa kosong dan gelisah seringkali perlahan menetap. Inilah wilayah yang oleh banyak orang diabaikan, padahal justru di sanalah kesehatan mental dipertaruhkan.
Ibnu Sina, seorang tabib dan filsuf besar dalam peradaban Islam, memandang manusia sebagai kesatuan utuh antara jasad dan jiwa. Baginya, kesehatan bukan sekadar tubuh yang berfungsi normal, tetapi kondisi natural “keadaan di mana seluruh potensi manusia bekerja selaras dengan fitrahnya”.
Baca Juga : Sisterfillah Perkenalkan Terapi Energi Senyum: Bisa Sembuhkan Masalah Mental dan Psikis!
Namun kita sering terjebak pada dua label ekstrem, sehat atau sakit tersebut. Menurut Ibnu Sina, inilah tanda ketidakseimbangan jiwa. Bukan penyakit akut, tetapi gangguan harmoni. Dan karena tidak terlihat, ia sering diabaikan, karena jiwa yang sehat itu seimbang.
Ibnu Sina menjelaskan bahwa jiwa yang sehat adalah jiwa yang berada dalam i‘tidal, keseimbangan. Ia tidak dikuasai oleh emosi, tetapi juga tidak mematikan perasaan. Akal memimpin, emosi mengikuti, dan tubuh mendukung. Dari sinilah lahir mental yang stabil.
Jika dirangkum secara sederhana, mental yang sehat memiliki empat ciri utama. Stabil, secara emosional, tidak mudah meledak atau tenggelam. Pikiran jernih, mampu membedakan yang nyata dan yang dibayangkan. Harmoni, lahir dan batin, tubuh dan jiwa saling menguatkan. Hidupnya spiritualitas, emosi bisa dirasakan, dikendalikan, dan diarahkan menuju makna.
Baca Juga : Opera Air, Browser dengan Fitur Kesehatan Mental
Ini bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru orang yang sehat mental adalah mereka yang mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan dirinya.
Marah bukan musuh, akal adalah kuncinya”. Dan tidak harus dimatikan, ia adalah bagian dari daya jiwa, sama seperti cinta dan takut. Namun, ketika marah tidak dikendalikan oleh akal, ia berubah menjadi kekuatan destruktif.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
